ホーム Healty 1 Jutaan Lebih Pekerja Asing Di PHK Akibat Dampak Pandemi Corona Yang...

1 Jutaan Lebih Pekerja Asing Di PHK Akibat Dampak Pandemi Corona Yang Melanda Banyak Perusahaan Jepang

144
0
Tokyo. Andylala

NIINDO.COM – Pandemi Virus Corona berdampak pada pekerjaan dan kehidupan sehari-hari pekerja asing di Jepang. Jumlah mereka yang kehilangan pekerjaan mencapai rekor tertinggi sekitar 1,72 juta pada tahun 2020.

Dikutip dari The Japan Today, pekerja asing yang kehilangan pekerjaan karena kemerosotan ekonomi sedang berjuang secara finansial untuk kelangsungan kehidupan mereka. Para agen ketenagakerjaan mendesak pemerintah untuk memberi bantuan kemudahan pekerjaan untuk mereka.

Raquel Garcia, seorang warga Filipina berusia 45 tahun yang bekerja di sebuah pabrik Sharp Corp di Taki, Prefektur Mie di Jepang tengah, diberhentikan dari pekerjaannya akhir tahun lalu. Garcia telah bekerja di pabrik itu selama sembilan tahun sebagai staf yang dikirim oleh subkontraktor dari pabrikan elektronik besar.

BACA JUGA : 4 Pejabat Kementerian Jepang Jalani Pemeriksaan Setelah Jamuan Makan Putra PM Suga

Di tengah pandemi Virus Corona, Garcia diberhentikan oleh subkontraktor pada November bersama dengan sekitar 100 karyawan lainnya yang sebagian besar adalah warga negara Filipina.

“Mengapa kita (orang asing) yang pertama dipecat saat perusahaan dalam keadaan darurat?” keluh Raquel Garcia.

Garcia, yang datang ke Jepang pada tahun 2003, mengatakan, subkontraktor hanya mengatakan bahwa bisnisnya sedang buruk dan tidak ada prospek pemulihan untuk saat ini.

Garcia harus puas dengan tunjangan pengangguran yang jumlahnya 50-80 persen dari gaji rata-rata enam bulan terakhir dari pekerjaan sebelumnya. Dia harus mengurangi jumlah uang yang dia kirim ke dua anak perempuan yang dia tinggalkan di Filipina.

“Karena saya hampir tidak memenuhi kebutuhan hidup. Saya hanya berharap bisa bekerja kembali,” kata Garcia.

Namun demikian peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan baru, terhambat oleh fakta bahwa kemampuan literasi yang terbatas dalam bahasa Jepang. Hal itu membuatnya sulit untuk mendapatkan surat izin mengemudi. Hal ini jelas membatasi pada transportasi umum yang jarang di daerah Prefektur Mie, tempat dia tinggal.

Serikat pekerja yang berbasis di Prefektur Mie, di mana Garcia mengikuti kelas bahasa Jepang untuk orang asing, telah meminjamkan uang kepada mereka yang ingin mendapatkan surat izin mengemudi.

“Meskipun pemerintah mengatakan sedang mengupayakan hidup berdampingan antara orang (Jepang) dan orang asing, itu hanya memberikan dukungan terbatas untuk orang asing. Mereka belum mengambil tindakan.” kata Ketua serikat pekerja, Hojo Hirooka.

Konfederasi Serikat Pekerja Jepang, yang juga dikenal sebagai Rengo dan organisasi tenaga kerja terbesar di negara itu, telah memberikan konsultasi bagi pekerja non-Jepang pada bulan Januari lalu. Topik yang dibahas mengenai masalah yang berkaitan dengan kontrak, gaji dan kondisi kerja lainnya.

Salah satu pesertanya adalah warga Filipina yang telah bekerja selama 14 tahun sebagai karyawan tetap. Pekerja tersebut mengeluhkan perlakuan yang tidak setara terhadap orang asing dan menyatakan ketakutan akan di-PHK.

BACA JUGA : Mahasiswa China Jepang & Korea Selatan Kerja Bareng Film Animasi Melalui Online

Haruhisa Yamaneki, seorang pejabat senior Rengo, menyerukan dukungan mendesak bagi pekerja non-Jepang.

Pemerintah Jepang sebelum pandemi Corona, telah berupaya untuk meningkatkan pekerja asing pada saat ekonomi terbesar ketiga di dunia itu sedang menghadapi kekurangan tenaga kerja. Hal itu disebabkan oleh penurunan angka kelahiran dan populasi yang menua di Jepang.

Jumlah pekerja asing di Jepang mencapai rekor tertinggi yaitu 1.724.328 per Oktober 2020. Angka ini meningkat 4,0 persen dari tahun sebelumnya.

Sebagian besar pekerja adalah penduduk tetap atau pasangan orang Jepang, dengan jumlah total 546.469. Kelompok terbesar berikutnya adalah trainee praktek kerja, yang jumlahnya naik 4,8 persen menjadi 402.356. Mereka yang bekerja dengan status visa baru yang dibuat pada 2019 untuk menarik lebih banyak pekerja di sektor industri mencapai 7.262 orang.

Program magang teknis yang disponsori pemerintah Jepang, diperkenalkan pada tahun 1993 dengan tujuan mentransfer keterampilan ke negara-negara berkembang. Namun kebijakan ini menuai kritik sebagai kedok bagi perusahaan untuk mengimpor tenaga kerja murah dari negara-negara Asia.

Yoshihisa Saito, seorang profesor hukum ketenagakerjaan di Universitas Kobe, mengatakan, beberapa bidang industri penting, seperti pertanian dan perawatan, mengalami kesulitan dalam merekrut pekerja Jepang. Hal ini mengingat tingkat gaji dan tunjangan lainnya yang tinggi, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pekerja asing.

“Untuk memecahkan masalah secara mendasar, perlu untuk menetapkan kondisi dan lingkungan kerja yang lebih baik, agar lebih mudah bagi orang Jepang dan orang asing untuk bekerja,” kata Saito.

返事を書く

あなたのコメントを入力してください。
ここにあなたの名前を入力してください