Beranda » Sebulan Pasca Gempa Noto Hanto Jepang, Para Pemagang Asing di Ishikawa Masih Merasa Cemas

Sebulan Pasca Gempa Noto Hanto Jepang, Para Pemagang Asing di Ishikawa Masih Merasa Cemas

NIINDO.COM – Sebulan telah berlalu sejak gempa bumi besar di Noto Hanto Prefektur Ishikawa 1 Januari 2024, para pemagang asing yang ada di wilayah itu masih merasa cemas.

“Kami harus mempertahankan para pemagang Indonesia yang ada di sini untuk bisa tetap hidup di tengah berbagai kerusakan yang ada akibat gempa bumi,” papar Masuko Sakaguchi, Kepala Pabrik Ranbuhl Fashion di Kota Nanao Ishikawa baru-baru ini.

Di pabrik pemintalan Ranbuhl di Kota Nanao, setengah dari pekerjanya adalah orang Indonesia.

Masuko Sakaguchi mengatakan alasan mengapa dia dapat melanjutkan pekerjaan sebagian besar karena semangat para peserta pelatihan.

Baca juga : Menjaga Kesehatan Mental Anak-Anak Korban Bencana

“Pemagang itu berhasil melindungi perekonomian di sini dengan pekerjaannya. Akan menjadi kerugian besar bagi perusahaan apabila tak dapat beroperasi dan juga kesulitan besar akan dihadapi para pemagang di sana pula,” tambahnya.

Jumlah pemagang teknis di wilayah Nanao menyumbang sekitar 15 persen (738) dari total jumlah magang teknis di Prefektur Ishikawa yang totalnya ada 5.162 orang.

“Di antara perusahaan yang terkena dampak bencana, ada banyak perusahaan di mana tidak jelas apakah mereka akan kembali atau tidak karena banyak karyawan asli mereka sudah lanjut usia,” kata Quinn, organisasi pengawas yang melindungi pemagang.

Baca juga : Banyak Permintaan Palsu setelah Gempa Jepang Berasal dari Luar Negeri

“Sementara itu (sampai pemulihan perusahaan), saya pikir jika kita dapat memperoleh staf kerja, hal itu akan mengarah pada resolusi kecemasan para peserta pelatihan,” ungkap Seiichiro Kurano, Direktur Perwakilan Business Assist sebuah koperasi bisnis di Kota Nanao.

Sampai kapan keadaan kembali normal di Prefektur Ishikawa masih belum terlihat hingga kini.

Namun para pemagang Indonesia tetap bersemangat untuk bekerja di pabrik tenun Ranbuhl dengan melanjutkan kerjanya menggunakan mesin jahit.

“Berusaha membantu apa yang bisa kita bantu untuk memutar perekonomian lokal di sini dengan tetap berjalannya usaha ini,” papar seorang pekerja Indonesia yang tak mau disebut namanya.

Dikutip dari Tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.