NIINDO.COM – Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihide Suga secara mendadak Sabtu (21/11) menghentikan program subsidi promo wisata “Go To Travel” di wilayah dengan jumlah kasus virus korona yang tinggi, .
Dikutip dari Kyodo News, PM Suga menerima rekomendasi dari berbagai kalangan terkait situasi terkini penularan Virus Corona. Suga mempertimbangkan untuk menghentikan kampanye promosi wisata domestik.
“Untuk menghindari situasi yang membutuhkan tindakan lebih kuat, kerja sama masyarakat sangat diperlukan”, ujar Yoshihide Suga.
Baca juga : Kerjasama Dengan Jepang, AS berhasil Uji Coba Penangkal Rudal ICBM Yang Menjadi Andalan Korut
Pemerintah lanjut Yoshihide Suga, meminta gubernur di masing-masing prefektur untuk mempertimbangkan penghentian penerbitan kupon diskon “Go To Eat” yang bertujuan mendorong makan di restoran.
Keputusan ini dibuat setelah panel ahli medis pemerintah mengusulkan untuk meninjau ulang kampanye di daerah di mana infeksi menyebar dengan cepat.

sumber : google.com
Pemerintah menurut Suga telah berusaha keras untuk mencapai keseimbangan antara mencegah penyebaran virus dengan merevitalisasi situasi ekonomi yang terpukul.
Pakar medis menggambarkan melonjaknya angka penularan Virus Corona di Jepang ini sebagai gelombang ketiga infeksi. Para pakar ini menghubungkan situasi ini dengan datangnya suhu yang lebih dingin yang telah memaksa orang untuk menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan.
Toshio Nakagawa, Kepala Asosiasi Medis Jepang, mengatakan, tidak ada bukti konkret yang menunjukkan bahwa program perjalanan wisata, bertanggung jawab atas lonjakan kasus virus Corona.
Sementara itu pusat transportasi di seluruh prefektur Jepang mengalami peningkatan lalu lintas wisatawan domestik pada Sabtu (21/11) sehubungan dengan liburan hingga Senin (23/11). Para pelancong ini menyuarakan kebingungan atas perubahan arah pemerintah pada inisiatif perjalanan.
“Wisatawan tidak lagi tahu aturan apa yang harus mereka ikuti. (Pemerintah) membutuhkan waktu terlalu lama untuk memutuskan apa pun”, kata seorang pria berusia 56 tahun dari Prefektur Osaka yang mengunjungi tempat wisata populer di Kyoto, Jepang barat, bersama istrinya.
Di Hokkaido, Tetsuyuki Takeda, penjual ikan berusia 66 tahun di Otaru, mengatakan kemungkinan pembatasan skema yang ia sebut menakutkan bagi seseorang yang mengelola bisnis. Pulau utama paling utara Jepang itu mencatat lebih dari 300 infeksi harian untuk pertama kalinya pada hari Jumat.
Program “Go To Travel” diluncurkan pada akhir Juli lalu, dan secara efektif mencakup sekitar setengah dari pengeluaran wisatawan domestik. Sejauh ini, sekitar 40 juta perjalanan telah dilakukan melalui program tersebut. Dengan 176 orang yang mengakses subsidi diketahui telah terinfeksi virus tersebut, menurut pemerintah.
Tokyo mengonfirmasi pada Sabtu (21/11) sebanyak 539 kasus harian baru virus corona.
Sebelumnya pada hari Jumat (20/11) Jepang melaporkan 2.427 infeksi baru. Selain Tokyo, daerah perkotaan lain juga mengalami peningkatan tajam dalam kasus baru, dengan Prefektur Osaka mencapai rekor 370. (Andylala)
Baca juga : 17 WNI Positif Corona, Pemerintah Indonesia & Otoritas Jepang Selidiki Penyebab Penularan
Tonton juga :
