Kerjasama Dengan Jepang, AS berhasil Uji Coba Penangkal Rudal ICBM Yang Menjadi Andalan Korut

0
101
views
sumber :Gambar yang berasal dari tangkapan layar tayangan kanal televisi Korea Utara, KRT, menunjukkan rudal balistik antar benua (ICBM) terbaru yang dipunyai Korea Utara, dipamerkan dalam parade militer untuk merayakan 75 tahun Partai Buruh di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, pada 10 Oktober 2020.(KRT via AP)

NIINDO.COM – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) pada Selasa (17/11) mengatakan, pihaknya telah berhasil menghancurkan target rudal balistik antarbenua dari kapal Angkatan Laut menggunakan penangkal rudal yang dikembangkan bersama dengan Jepang.

Dikutip dari Kyodo News, penangkal rudal bernama Standard Missile-3 Block 2A yang diluncurkan dari kapal perusak Aegis, dipandang oleh Pentagon memiliki potensi untuk menambahkan lapisan perlindungan lain ke pertahanan misilnya terhadap ancaman rudal balistik antar-benua (Intercontinental Ballistic Missile, ICBM). ICBM diketahui, terus dikembangkan di beberapa negara termasuk Korea Utara dan dinilai sangat mengancam AS.

Wakil Kepala Badan Pertahanan Rudal Laksamana Jon Hill dalam siaran persnya menyambut baik uji coba ini.

“Uji coba ini menunjukkan, bahwa kapal Aegis yang dilengkapi dengan pencegat SM-3 dapat mengalahkan target kelas ICBM”, ujar John Hill.

Sementara itu, Wakil Presiden Raytheon Missiles & Defense Brian Roselli optimis, AS memiliki kekuatan lapisan pertahanan yang mampu menangkal ancaman dari jarak jauh. Perusahaan berbasis pertahanan, Raytheon Missiles & Defense mengembangkan pencegat rudal dengan perusahaan Mitsubishi Jepang, Heavy Industries Ltd.

Baca juga :  KBRI Tokyo & Sekolah Republik Indonesia Tokyo Gelar Lomba Cerdas Cermat Kebangsaan

“Tes pertama dari jenis ini menunjukkan bahwa negara kita memiliki opsi yang layak untuk lapisan pertahanan baru terhadap ancaman jarak jauh,” kata Bryan Rosselli.

Departemen Pertahanan AS menjelaskan, dalam uji coba pada Senin sekitar pukul 19.50 waktu standar Hawaii, ICBM tiruan diluncurkan dari lokasi uji coba pertahanan rudal balistik di Kepulauan Marshall menuju wilayah laut luas di timur laut Hawaii. Setelah menerima data pelacakan, kapal Aegis meluncurkan pencegat SM-3 dan menghancurkan target.

Upaya AS untuk dapat menangkal serangan ICBM terus dilakukan ketika AS terus menghadapi ancaman nuklir dan rudal dari Korea Utara. Hal ini terus berjalan seiring dengan transisi kekuasaan dari Presiden Donald Trump ke Presiden terpilih dari Partai Demokrat Joe Biden yang akan dilantik pada Januari 2021.

Pada November 2017, Pyongyang menguji ICBM yang berpotensi mengirimkan hulu ledak nuklir ke daratan AS pada November 2017.

Korea Utara diketahui juga telah menguji rudal jarak pendek jenis baru ICBM pada bulan Oktober 2020. Pengembangan ICBM ini terus dilakukan Korea Utara ditengah upaya negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat menemui jalan buntu.

Sementara AS, terus mengembangkan SM-3 Block 2A sebagai penerus SM-3 Block 1A untuk memberikan cakupan pertahanan yang lebih luas. Pengembangan ini diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menangani rudal balistik yang ditembakkan pada sudut yang lebih tinggi daripada lintasan normal.

Kerjasama erat dengan Jepang dilakukan AS khususnya untuk di bagian interseptor seperti kerucut hidungnya pada SM-3 Block 2A.

Uji coba sistim anti rudal balistik antar benua sebelumnya pernah dilakukan AS pada Maret 2019. Sistem itu dinamakan Ground-based Midcourse Defense (GMD).

Sistem tersebut berhasil mencegat target yang ditembakkan dari Kepulauan Marshall. Sistem pertama ditempatkan di California, berjarak 6.500 kilometer dari lokasi pelontar ICBM. Sistem itu berhasil menghancurkan ICBM yang dilontarkan. Setelah itu, sistem kedua juga berhasil menghancurkan pecahan dari ICBM tersebut.

GMD dirancang untuk menembakkan rudal penangkal ke udara, kemudian menggunakan tenaga kinetik untuk memecahkan target selanjutnya.

Pengembangan Rudal Balistik Antar Benua Korea Utara

Pada Oktober lalu, Korea Utara memamerkan pengembangan terbaru dari rudal balistik antar-benua (Intercontinental Ballistic Missile, ICBM). Rudal balistik ICBM ini dipamerkan saat Ulang Tahun Partai Buruh Ke-75.

Rudal berukuran raksasa itu, sampai harus diarak di alun-alun Kim Il Sung dengan truk transporter erector launche (TEL) 22 roda. Dalam sejarahnya, tidak pernah ada ICBM Korea Utara yang sampai harus dibawa dengan TEL 22 roda.

Sebagai perbandingan, Hwasong-15, rudal balistik dengan daya jelajah 12.874 kilometer, dibawa dengan TEL 18 roda. Dengan kata lain, ICBM baru tanpa nama tersebut 20 persen lebih panjang dibanding rudal andalan Korea Utara saat ini. Menurut pandangan mata seorang pakar, panjang ICBM itu kurang lebih 26 meter dengan diameter 3 meter alias yang terbesar di dunia.

Namun demikian Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam pidatonya saat itu memastikan, rudal balistik antar benua ICBM ini semata untuk pencegah perang dan bukan ditujukan untuk spesifik negara manapun. Andylala

Baca juga :  Promosi Batik Indonesia Dengan Bersepeda di 17 Titik Daerah Di Jepang

Tonton juga :

Tokyo Medical Tour

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here