Beranda » Yen Jatuh ke Level Terendah 38 Tahun, RI Ikut Untung Apa Buntung?

Yen Jatuh ke Level Terendah 38 Tahun, RI Ikut Untung Apa Buntung?

NIINDO – Yen Jepang tak berkuasa di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) sejak dahulu. Hal ini semakin berpengaruh terhadap Indonesia yang merupakan mitra dagang dan Jepang sebagai tempat pariwisata yang menarik.

Dilansir dari Refinitiv, pada Jumat (28/6/2024), yen ditutup di posisi 160,83/US$1. Posisi ini merupakan yang terlemah sejak 24 Desember 1986 atau sekitar 38 tahun terakhir.

Dalam sepekan, yen ambruk 0,65% pekan ini. Artinya, yen sudah ambruk dalam tiga pekan beruntun. Dalam sebulan, yen jatuh 2024 sementara dalam setahun terperosok 14,02% atau menjadi yang terdalam sejak 2013.

Tak hanya di hadapan Greenback (dolar AS), yen juga terpuruk berlawanan dengan rupiah.

Saat ini, nilai tukar yen terhadap rupiah berada di angka 101,73. Angka ini merupakan yang terparah sejak Desember 2014 atau hampir 10 tahun terakhir.

Baca juga : BNI Salurkan Diaspora Loan ke Keihin Corporation, Dukung Bisnis Diaspora Indonesia di Jepang

Faktor Penyebab Yen Ambruk

Yen terus melemah sejak Bank of Japan (BoJ) mengakhiri kebijakan suku bunga negatif dan membatalkan kebijakan pengendalian kurva imbal hasilnya pada Maret.

Untuk menjaga nilai tukar, Kementerian Keuangan Jepang sudah melakukan intervensi antara tanggal 26 April hingga 29 Mei sebesar JPY 9.7885 triliun (sekitar $62.25 miliar).

Dong Chen, strategis Asia utama dan kepala riset Asia di bank swasta Swiss Pictet, mengatakan bahwa dia masih mengharapkan yen tetap “cukup lemah” meskipun ada peringatan intervensi dari pejabat Jepang.

“Sejujurnya, sebenarnya, saya tidak berpikir bahwa pihak berwenang Jepang bisa melakukan banyak hal terhadap yen, dan pasar telah menunjukkan hal itu. Karena meskipun semua intervensi verbal atau intervensi nyata yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan Jepang selama ini, mereka tidak berhasil menghentikan pelemahan yen,” kata Dong, kepada CNBC International.

Baca juga : Heboh Bakteri Pemakan Daging di Jepang, Kemenkes RI Buka Suara

Dong menjelaskan bahwa ini terjadi karena selisih suku bunga antara AS dan Jepang tetap sangat besar, dan ini akan membuat yen tetap lemah kecuali selisih ini menurun lebih signifikan.

Menyusul ambruknya yen, Jepang dilaporkan menunjuk Atsushi Mimura sebagai diplomat mata uang teratas, menggantikan Masato Kanda. Mimura, saat ini direktur jenderal biro internasional Kementerian Keuangan Jepang, diharapkan akan mulai menjabat pada tanggal 31 Juli.

Nikkei melaporkan bahwa wakil menteri keuangan saat ini, Eiji Chatani, akan digantikan oleh Hirotsugu Shinkawa, direktur jenderal biro anggaran kementerian keuangan. Perubahan ini akan berlaku mulai tanggal 5 Juli.

Dampak ke RI

Pelemahan yen ini akan berdampak bagi negara lainnya termasuk Indonesia. Tak perkasanya yen ini berdampak terhadap impor barang-barang dari Jepang untuk masuk ke wilayah Indonesia yang akan menjadi lebih murah.

Sebagai catatan, impor nonmigas dari Jepang pada Mei 2024 tercatat sebesar US$1,03 miliar. Sementara secara kumulatif (Januari-Mei 2024), impor nonmigas dari Jepang sebesar US$5,34 miliar. Dengan impor sebesar ini, maka jumlah nominal yang dikeluarkan oleh Indonesia akan lebih kecil ketika nilai tukar yen terdepresiasi.

Beberapa barang yang diimpor dari Kepang adalah mesin & peralatan mekanik, kendaraan besi & baja, kendaraan, optic & fotografi, peralatan elektronik.

Baca juga :Empat Pendaki Gunung Fuji Tewas

Kendati pelemahan yen terlihat baik bagi Indonesia tetapi secara ekonomi juga membawa dampak negatif, yakni berupa lonjakan kunjungan turis asal Indonesia ke Jepang. Kondisi ini bisa memicu arus keluar devisa ke Jepang dari Indonesia.

Jepang menjadi tujuan favorit wisatawan asing setelah yen melemah. Jumlah kunjungan turis ke Jepang menembus 14.641.500 pada Januari-Mei 2024 atau melesat 9,6%.

Selama Mei 2024, kunjungan turis asal Indonesia mencapai 41.300 orang atau terbang 37,2% dibandingkan Mei pra pandemi Covid-19 2019.

Sepanjang Januari-Mei 2024, turis asal Indonesia yang bepergian ke Jepang menembus 220.800 atau terbang 32,5% dibandingkan Januari-Mei 2019.

Berdasarkan data Japan Tourism Statistic, rata-rata warga RI mayoritas menghabiskan 7-13 hari di Jepang. Kota favorit yang dikunjungi adalah Tokyo, Osaka, Chiba Prefecture, Kyoto, dan Yamanashi Prefecture.

Dikutip dari CNBC Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.