Beranda Uncategorized Corona Melonjak, Jepang Berlakukan Keadaan Darurat Tokyo Chiba Kangawa & Saitama

Corona Melonjak, Jepang Berlakukan Keadaan Darurat Tokyo Chiba Kangawa & Saitama

94
0
Suasana malam di kawasan Shibuya Tokyo di awal tahun 2021. Foto Andylala

NIINDO.COM – Keputusan Perdana Menteri Yoshihide Suga pada Senin (4/1) bahwa pemerintah segera mengumumkan keadaan darurat terkait virus corona di Tokyo Chiba Kanagawa dan Saitama, menyusul peningkatan infeksi yang tak henti-hentinya selama liburan Tahun Baru, memunculkan reaksi beragam.

Dikutip dari The Japan Times, kalangan partai-partai oposisi mengkritik keputusan itu yang dinilai terlambat. Pejabat pemerintah mengatakan, keputusan status darurat untuk Tokyo, Chiba, Kanagawa dan Saitama itu paling cepat akan diumumkan pada Kamis (8/1) dan akan berlangsung sekitar satu bulan.

“Sistem medis tegang. Apakah benar-benar cukup untuk (mengeluarkan deklarasi darurat) hanya untuk Tokyo dan tiga prefektur? ” kata Yukio Edano, ketua oposisi utama Partai Demokrat Konstitusional Jepang.

BACA JUGA : Pusat Perbelanjaan Mewah di Jepang yang Ramah Muslim ,Prince Shopping Plaza

Kritik senada juga disampaikan Nobuyuki Baba, sekretaris jenderal Nippon Ishin no Kai. Penerapan status darurat menurutnya seharusnya sudah diumumkan sejak akhir 2020 lalu.

“Pemerintah selalu bereaksi setelah kejadian. Keadaan darurat seharusnya diumumkan sebelum akhir tahun lalu,” ujar Nobuyuki Baba.

Sementara itu beberapa pebisnis mengkhawatirkan adanya kerugian ekonomi yang ditimbulkan jika Pemerintah menerapkan status darurat. Seorang manajer restoran berusia 50 tahun di Pecinan Yokohama mengungkapkan keprihatinannya saat dia melihat bangunannya yang sepi.

“Saya memahami bahwa pemerintah harus mengumumkan keadaan darurat. Tetapi jika tidak diikuti dukungan keuangan untuk tempat makan dan minum, kami akan mendapat masalah,” katanya.

Sementara itu, Eizaburo Seko, 41, pemilik pub bergaya Jepang yang telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun di distrik Kanda Tokyo mengatakan, penjualannya turun lebih dari 90% selama deklarasi darurat sebelumnya.

BACA JUGA : PSBB Jawa dan Bali Mulai 11-25 Januari 2021, Ini Poin-poin Penting dalam Penerapan

“Jika kami harus tutup pada jam 8 malam, kami tidak dapat mengharapkan penjualan di malam hari. Jika mereka tidak bertujuan untuk membuat infeksi menjadi nol, situasi ini akan berlarut-larut,” katanya.

Pada Senin (4/1), Gubernur Prefektur Tokyo, Chiba, Kanagawa dan Saitama setuju untuk meminta tempat makan dan minum tutup pada pukul 8 malam.

Beberapa Gubernur Prefektur mengkhawatirkan jika Tokyo lambat dalam mengendalikan penyebaran Corona, dapat berimbas ke prefektur lainnya.

“Jika infeksi tidak dikendalikan di ibu kota dan daerah sekitarnya, kami tidak dapat mencegah penyebaran ke daerah lain,” kata Gubernur Niigata Hideyo Hanazumi.

Hal senada dikatakan Gubernur Yamaguchi, Tsugumasa Muraoka yang menyoroti perkembangan peningkatan Corona di Tokyo.

“Jika kota-kota besar tidak terkendali, masa-masa sulit akan terus berlanjut bagi kita di sini, di kota-kota yang lebih kecil.” ujar Tsugumasa Muraoka.

Dalam kesempatan terpisah, reaksi beragam juga muncul di kalangan masyarakat. Seorang pria berusia 63 tahun dari Tokyo meyakini, penerapan status keadaan darurat Virus Corona tidak dapat dihindari. Pria itu mengatakan dia mengambil tindakan pencegahan terhadap virus dengan tinggal di rumah dan menghindari makan di luar.

“Penting bagi orang untuk berbagi rasa krisis melalui pernyataan. Perekonomian penting tetapi menyelamatkan nyawa adalah prioritas tertinggi,” katanya.

Mirin Ito, 32 tahun dari Prefektur Saitama mencemaskan apa yang akan terjadi jika sekolah ditutup.

“Sejujurnya, saya pikir keputusan pemerintah terlalu lama.” ujar ibu dua anak laki-laki ini.

Prefektur Tokyo, Chiba, Kanagawa, dan Saitama pada Sabtu (2/1) mendorong pemerintah pusat untuk mengumumkan keadaan darurat, setelah Tokyo melaporkan lebih dari 1.300 kasus virus korona baru dalam satu hari untuk pertama kalinya. Seorang pejabat pemerintah metropolitan Tokyo berharap akan ada penurunan kasus dari kebijakan ini meski pada akhirnya akan ada sebagian orang mengalami kesulitan dalam mempertahankan mata pencahariannya jika kegiatan ekonomi terhenti.

BACA JUGA : Reaksi Beragam Saat Suga Setuju Status Darurat untuk Tokyo Chiba Kanagawa & Saitama Pekan Ini

“Tapi yang terpenting adalah memastikan bahwa sistem kesehatan tidak akan runtuh. Kami berharap ini akan mengarah pada penurunan kasus, ” ujarnya.

Menyusul janji Perdana Menteri Yoshihide Suga pada konferensi pers Senin (4/1), bahwa pemerintah akan mempertimbangkan untuk mengeluarkan deklarasi status keadaan darurat, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengatakan bahwa pemerintahnya akan segera menerapkan langkah-langkah antivirus sehingga efektif. Koike juga mendorong kerja jarak jauh dan pengurangan jam kerja untuk membantu mengekang infeksi.

Banyak perusahaan Jepang telah menyiapkan penerapan kebijakan terkait jam kerja. NEC Corp. telah membatasi staf di lokasi hingga sekitar 40%, sementara Fujitsu Ltd telah meminta karyawannya untuk menahan diri dari makan bersama.

Gubernur Chiba Kensaku Morita menyebut deklarasi darurat itu sebagai kartu terakhir kami dalam memerangi virus. Ia mengakui itu mungkin berdampak negatif pada ekonomi tetapi menggarisbawahi pentingnya memberantas virus.

“Kami menghadapi momen kritis untuk menyeimbangkan langkah-langkah antivirus dan ekonomi,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here