Beranda » Rayu Jepang, Zulhas Pamer Kekuatan di Balik Industri Mobil Listrik RI

Rayu Jepang, Zulhas Pamer Kekuatan di Balik Industri Mobil Listrik RI

NIINDO – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) memamerkan pertumbuhan industri kendaraan listrik RI di sela-sela Forum APEC di Peru. Dia juga memaparkan daya dukung di balik potensi besar industri kendaraan (mobil) listrik RI.

“Industri kendaraan listrik di Tanah Air berpotensi mengalami pertumbuhan yang pesat. Indonesia memiliki sumber daya mineral cukup besar yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan industri kendaraan listrik domestik hingga global,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (18/5/2024).

“Pemerintah tengah melakukan berbagai upaya agar potensi tersebut bisa dimaksimalkan. Salah satu caranya memperkuat kerja sama dengan sejumlah negara produsen kendaraan roda empat,” tambah Zulhas.

Baca juga : Toshiba Akan PHK 4.000 Karyawan di Jepang

Dia mengatakan, Indonesia gencar melakukan pertemuan dengan berbagai negara untuk menarik investasi di industri kendaraan listrik di Tanah Air. Salah satu negara yang diajak berinvestasi di industri kendaraan listrik dalam negeri adalah Jepang. Yang dinilai telah memiliki historis panjang dalam pengembangan industri otomotif Indonesia.

“Indonesia mengundang Jepang untuk meningkatkan kerja sama industri otomotif mobil listrik di Indonesia,” ujar Zulhas usai melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Parlemen untuk Urusan Luar Negeri Jepang, Komura Masahiro di forum APEC 2024, Peru, Jumat (17/5/2024).

“Pertemuan bilateral yang dilakukan bukan hanya bersama Jepang saja. Namun RI juga gencar melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah negara untuk memperkuat kerja sama di sejumlah sektor,” sebutnya.

Apalagi, imbuh dia, APEC merupakan forum kerja sama regional 21 ekonomi di lingkaran Samudera Pasifik.

Baca juga : Permintaan Pestisida Tinggi Akibat Wabah Kutu Busuk

Disebutkan, pertemuan APEC tersebut membahas upaya Fasilitasi Perdagangan guna mewujudkan perdagangan yang liberal, inklusif dan berkelanjutan.

“Kerja sama APEC menghasilkan keputusan-keputusan yang bersifat sukarela dan tidak mengikat (non-binding). Namun, seringkali bersifat politis,” katanya.

“Kegiatan utama APEC meliputi kerja sama perdagangan, investasi, serta kerja sama ekonomi lainnya untuk mendorong pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan di Kawasan Asia Pasifik,” pungkas Zulhas.

Adapun anggota ekonomi APEC terdiri dari Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Kanada, Chili, China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, PNG, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Dikutip dari CNBC INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.