NIINDO – Sebuah program saat ini memberikan dukungan bagi masyarakat di Semenanjung Noto Jepang yang masih menderita akibat gempa dahsyat pada Hari Tahun Baru. Program ini memanfaatkan pelajaran dari Gempa Besar Jepang Timur pada tahun 2011.
Diperkirakan lebih dari 4.700 warga yang terdampak gempa di Prefektur Ishikawa masih tinggal di rumah mereka yang rusak, dan tidak pindah ke tempat pengungsian yang telah ditentukan. Namun, angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi.
Berbagai upaya dilakukan untuk membantu warga tersebut.
Abe Tomoyuki berasal dari Kota Morioka di Jepang timur laut. Ia memanfaatkan pengalamannya sebagai konselor kehidupan di pusat dukungan rekonstruksi yang didirikan setelah gempa tahun 2011.
Baca juga : Warga di Jepang Timur Laut Kenang Korban Tsunami 2011 di Monumen Baru
Abe berpendapat bahwa pemberian bantuan dalam bentuk makanan akan membantu mengungkap secara pasti bagaimana warga yang terdampak gempa menghadapi kehidupan di rumah mereka yang rusak.
Abe mengatakan penting untuk menghormati martabat setiap orang dan memenuhi kebutuhan mereka, terlepas dari seberapa besar kerusakan yang terjadi pada rumah mereka.
Sebuah tim peneliti dari Universitas Tohoku menganalisis catatan medis lebih dari 8.000 penyintas gempa tahun 2011. Data menunjukkan bahwa orang yang berada di pusat pengungsian rata-rata dapat menerima pengobatan dalam waktu sekitar 13 hari.
Baca juga : Magang di Jepang-Specialist Degree di Rusia, Ini Cara Qonata Belajar Bahasa
Namun, orang yang tinggal di rumahnya tidak dapat menerima perawatan yang layak selama rata-rata sekitar 19 hari. Hal itu karena pihak berwenang membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka.
Seorang pakar mengenai pemberian bantuan kepada korban bencana mengatakan bahwa bantuan bencana saat ini terfokus pada orang-orang yang berada di pusat-pusat evakuasi, dan tidak memperhitungkan mereka yang masih berada di rumah mereka.
Dikutip dari NHK WORLD JAPAN
