Beranda » Pengungsi Gempa Noto Berjuang Melawan Dingin dan Trauma

Pengungsi Gempa Noto Berjuang Melawan Dingin dan Trauma

NIINDO.COM – Cuaca dingin membuat situasi sulit menjadi lebih buruk bagi para penyintas gempa mematikan Hari Tahun Baru di Jepang tengah. Setidaknya 222 orang dipastikan tewas dan ribuan lainnya masih belum kembali ke kediamannya karena suhu turun di bawah titik beku.

Awan salju menutupi sebagian besar Semenanjung Noto. Pada Selasa (16/01/2024) tengah hari, suhu berada di kisaran nol derajat. Para pejabat cuaca mengatakan suhu akan tetap di bawah 3 derajat Celsius.

Kondisi ini sangat menyulitkan para lansia di wilayah tersebut. Banyak yang telah dipindahkan ke panti jompo di daerah sekitar. Namun, beberapa fasilitas di Provinsi Ishikawa mengatakan sudah penuh kapasitasnya.

Sebuah panti jompo khusus di Kota Hakusan menampung 13 warga lanjut usia dari Kota Wajima yang terdampak parah. Direkturnya, Kamisugi Kazuko, mengatakan, “Biasanya, ini adalah sudut koridor atau bagian belakang ruang tamu. Namun, tidak ada ruang bagi orang untuk tidur dan tidak ada tempat tidur.”

Fasilitas itu mengatakan kekurangan kamar dan tempat tidur. Saat ini, fasilitas itu menetapkan penghuni untuk berbagi kamar atau menyiapkan tempat tidur di ruang bersama.

Baca juga : Dua Pekan Pascagempa Noto, WNI Telah Kembali ke Tempat Tinggalnya

Kamisugi menyampaikan ingin menerima orang sebanyak mungkin, tetapi stafnya terbatas. Ditambahkannya, pihaknya tidak memiliki ruang bagi orang lanjut usia untuk tidur dan sudah kewalahan.

Banyak orang yang selamat kini bergulat dengan apa yang terjadi. Sudah sekitar dua minggu sejak gempa terjadi dan bagi sebagian orang ingatan akan hal itu masih segar.

Ichimachi Toshio yang berusia tujuh puluh lima tahun tinggal di dekat pantai Kota Suzu bersama istri dan mertuanya. Mereka segera mengungsi setelah gempa pertama terjadi. Namun, 10 menit kemudian, tsunami melanda.

Ichimachi, istri, dan ibu mertuanya selamat, tetapi kehilangan ayah mertuanya yang berusia 89 tahun. Dua hari kemudian, Ichimachi menemukan jenazah ayah mertuanya itu sekitar 200 meter dari rumah mereka.

“Saya pikir akan memakan waktu lama untuk melupakan ini,” katanya.

Ichimachi mengatakan merasa bersalah karena tidak mencarinya lebih keras, tetapi mereka tidak tahu apakah tsunami akan datang lagi. Ia mengatakan gempa tersebut lebih kuat dari yang pernah ia alami dan tsunami datang terlalu cepat.

Hingga Selasa, 26 orang masih belum ditemukan. Selain itu, 16.000 orang lainnya masih tinggal di tempat penampungan darurat.

Dikutip dari NHK World – Japan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.