Beranda » Pemulihan Lambat Gempa Semenanjung Noto Bebani Bisnis

Pemulihan Lambat Gempa Semenanjung Noto Bebani Bisnis

NIINDO – Masyarakat masih berjuang untuk membangun kembali kehidupan, enam pekan setelah gempa mengguncang Semenanjung Noto di Jepang tengah pada Hari Tahun Baru.

Dengan suramnya harapan untuk pemulihan yang cepat, beberapa bisnis menghadapi kemungkinan tutup secara permanen.

Yoshiura Tsukasa bekerja di industri perikanan di Kota Wajima, Prefektur Ishikawa, salah satu daerah yang paling terkena dampak gempa. Sebelum bencana terjadi, ia menjaring kepiting salju dan hasil tangkapan laut lainnya.

Baca juga : Antusiasme WNI di Jepang dalam Pemilihan Presiden Indonesia Tahun 2024

Gempa tersebut menyebabkan garis pantai terangkat, sehingga terlalu dangkal untuk beroperasinya sekitar 200 kapal. Hal ini membuat Yoshiura memutuskan untuk berhenti setelah 50 tahun menjadi nelayan.

Yoshiura mengatakan, “Saya tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan. Mungkin lima tahun, mungkin sepuluh tahun. Saya tidak bisa mendapatkan penghasilan kecuali saya melaut.”

Yatsui Takahiro menjalankan perusahaan yang memproduksi dan menjual perabot pernis tradisional yang dikenal sebagai “Wajima-nuri”. Gempa tersebut membuat bengkel dan tokonya memerlukan perbaikan agar bisnisnya tetap berjalan.

Baca juga : Pemerintah Gandeng Jepang Susun Pengembangan TOD di Jabodetabek

Namun, menurutnya rekonstruksi bisa memakan waktu lama karena sulitnya menemukan pekerja. Yatsui berkata, “Pada akhirnya, uang itu penting. Kami tidak memperoleh penghasilan apa pun, dan perbaikan bengkel kami membutuhkan uang.”

Sebuah asosiasi kredit lokal melakukan survei terhadap dunia usaha di kota Wajima dan Suzu yang terkena dampak.

Ditemukan bahwa setidaknya 60 persen dari sekitar 1.600 perusahaan tidak dapat beroperasi.

Dikutip dari NHK WORLD JAPAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.