ニュース一覧に戻る
注目2026年10月17日

Nozawa Masako Tolak Penggunaan Suara Berbasis AI Tanpa Izin

Pengisi suara legendaris Jepang, Nozawa Masako, mengecam penggunaan suara berbasis kecerdasan buatan (AI) tanpa izin. Pengisi suara Son Goku dalam Dragon Ball itu menegaskan bahwa suara merupakan bagian dari identitas seseorang dan penggunaannya haru

Nozawa Masako Tolak Penggunaan Suara Berbasis AI Tanpa Izin

NIINDO - Pengisi suara legendaris Jepang, Nozawa Masako, menyuarakan keberatannya terhadap penggunaan suara yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) tanpa persetujuan pemiliknya. Ia menilai praktik tersebut tidak dapat dibenarkan karena suara merupakan bagian penting dari identitas seorang pengisi suara.

Pernyataan tersebut disampaikan Nozawa dalam wawancara dengan NHK pada Rabu, 14 Oktober 2026. Ini menjadi kali pertama ia secara terbuka membahas persoalan penggunaan suaranya oleh teknologi AI di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai pemanfaatan suara aktor tanpa izin.

Baca juga : Jumlah Penduduk Asing di Jepang Mencapai Rekor

Nama Nozawa dikenal luas berkat perannya sebagai pengisi suara Son Goku, tokoh utama dalam serial anime populer Dragon Ball. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pengisi suara Hoshino Tetsuro, protagonis dalam anime Galaxy Express 999.

Dalam wawancara tersebut, Nozawa mengungkapkan bahwa sebelumnya ia tidak mengetahui suaranya telah digunakan dalam konten berbasis AI tanpa persetujuannya. Setelah menyaksikan sebuah video yang diklaim menggunakan suaranya, ia justru menyadari bahwa suara dalam video tersebut bukanlah suara aslinya.

Meski demikian, Nozawa menegaskan bahwa penggunaan suara yang menyerupai dirinya untuk membuat video tanpa izin tetap merupakan tindakan yang tidak dapat diterima. Ia bahkan menyamakan praktik tersebut dengan pencurian karena memanfaatkan sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya tanpa persetujuan.

Baca juga : Japan Mobility Show 2026 Pamerkan Teknologi Pengisian Daya Mobil Listrik Tanpa Kabel

Menurut Nozawa, suara bukan sekadar alat untuk menyampaikan dialog, melainkan bagian dari identitas dan ekspresi seorang pengisi suara. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa izin tetap harus diperoleh, sekalipun hanya sebagian dari suaranya yang digunakan.

Ia juga menyoroti perbedaan antara suara manusia dan suara yang dihasilkan oleh AI. Walaupun teknologi tersebut mampu meniru karakteristik suara seseorang dengan sangat mirip, Nozawa menilai hasilnya belum tentu mampu menyampaikan ketulusan dan emosi yang sesungguhnya.

Baginya, penghayatan merupakan unsur penting dalam seni pengisi suara. Ia meyakini bahwa setiap peran harus dibawakan dengan perasaan yang tulus dari dalam hati.

Baca juga: Kereta Tokyo Akan Tinggalkan Tiket Magnetik

Sebagai contoh, ia menjelaskan bahwa suara seseorang yang menangis dengan sepenuh hati akan terdengar berbeda dibandingkan suara yang hanya meniru tangisan.

Selain menyampaikan keberatannya, Nozawa turut menanggapi penyusunan pedoman mengenai penggunaan suara yang dihasilkan oleh AI. Ia berharap aturan yang tengah dikembangkan dapat dipatuhi oleh semua pihak agar pemanfaatan teknologi tersebut tidak mengabaikan hak para pengisi suara.

Nozawa menegaskan bahwa kepatuhan terhadap peraturan harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penghormatan terhadap hak dan persetujuan individu yang suaranya digunakan.

Pernyataan Nozawa kembali menyoroti pentingnya perlindungan terhadap identitas suara di tengah pesatnya perkembangan AI. Persoalan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi perlu disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak para pekerja kreatif.