Beranda » Jepang Pertimbangkan Keadaan Darurat Menyusul Lonjakan Corona

Jepang Pertimbangkan Keadaan Darurat Menyusul Lonjakan Corona

NIINDO.COM – Kenaikan Pandemi Covid-19 (Corona) selama dua pekan terakhir menjadi pemikiran Pemerintah Jepang untuk kembali menerapkan keadaan darurat.

Dikutip dari The Japan Times, Menteri Revitalisasi Ekonomi Yasutoshi Nishimura dalam konferensi pers Rabu (25/11) malam mengatakan, Jepang tidak punya pilihan selain mengumumkan keadaan darurat jika lonjakan infeksi COVID-19 secara nasional tidak dapat diatasi dalam waktu tiga minggu.

“Tiga minggu ke depan sangat penting. Pernyataan keadaan darurat akan memasuki bidang pandang jika virus tidak menunjukkan tanda-tanda mereda selama periode itu”, kata Yasutoshi Nishimura yang juga merupakan Menteri Kabinet yang memimpin respons pandemi negara.

Baca juga : Garuda Select Jelaskan Alasan Bagus Kahfi Gagal Fc Utrecht

Nishimura setelah pertemuan dengan Subkomite virus korona pemerintah menambahkan, para pejabat tinggi mulai memberi peringatan karena virus terus menyebar ke seluruh negeri. Tren peningkatan yang mereka khawatirkan dapat berpengaruh pada sistem perawatan kesehatan di rumah sakit dalam memberikan perawatan medis dasar.

Selain itu juga, peningkatan infeksi baru yang berkelanjutan telah memaksa para pejabat untuk membatalkan atau menangguhkan kampanye menghidupkan kembali ekonomi melalui subsidi untuk industri pariwisata dan makanan.

Di Jepang, instruksi untuk mengisolasi diri, mempraktikkan jarak sosial, memakai masker atau menghindari perjalanan yang tidak perlu, tidak disertai hukuman pidana atau denda uang bagi warga yang melanggarnya, seperti di negara lain. Gubernur di masing-masing prefektur, hanya dapat meminta orang untuk tetap tinggal di dalam rumah, atau mengajukan apa yang kemudian dikenal sebagai penguncian lunak

Atas desakan Gubernur lokal dan Subkomite Virus Corona, pemerintah pusat pada Selasa (24/11), Sapporo dan Osaka akan dikecualikan sementara selama tiga minggu sebagai tujuan untuk Go To Travel. Pemerintah menganggarkan Kampanye Go To Travel pariwisata domestik ini senilai ¥ 1,35 triliun.

Meski demikian, penduduk di Sapporo dan Osaka, masih dapat menggunakan diskon yang diberikan dalam program ini untuk bepergian ke tempat lain.

Pembatasan perjalanan hanya diberlakukan di daerah yang dianggap telah mencapai Tahap 3 dari sistem empat tingkat Subkomite Virus Corona. Hal ini diterapkan untuk memudahkan pemantauan situasi di prefektur setelah kampanye perjalanan dimulai pada bulan Juli.

Sementara itu Gubernur Aichi Hideaki Omura pada Kamis (26/11) mengumumkan, restoran di distrik Nagoya yang menyajikan alkohol akan diminta untuk tutup pada jam 9 malam. selama tiga minggu mulai Minggu (29/11).

Prefektur Tokyo melaporkan ada 481 kasus tambahan COVID-19 pada Kamis (26/11). Sehingga total di daerah itu telah melewati angka 39.000 infeksi Virus Corona dengan 482 kematian.

Selama pertemuan panel virus pemerintah metropolitan, para ahli memperingatkan bahwa angka-angka itu terus meningkat. Tidak hanya untuk infeksi baru, tetapi juga untuk kasus tanpa gejala, kelompok atau klaster, tingkat tes positif kota, infeksi yang terjadi di antara orang tua & muda, serta jumlah kasus parah aktif.

Norio Ohmagari, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dalam pertemuan dengan Pemerintah Metropolitan Tokyo pada Kamis (26/11) mengatakan, tren penambahan infeksi baru terus meningkat.

“Jumlah orang yang dites, meski secara signifikan lebih tinggi daripada sebelumnya, telah mencapai titik tertinggi dan infeksi baru terus bertambah dengan cepat. Jika tren ini terus berlanjut, ada risiko nyata bahwa sistem perawatan kesehatan akan kewalahan dan rumah sakit tidak dapat menyediakan perawatan medis dasar”, keluh Norio Ohmagari.

Pejabat Tokyo mengumumkan pada Kamis (26/11), rumah sakit yang digunakan dengan 100 tempat tidur khusus untuk pasien COVID-19 akan mulai beroperasi pada 16 Desember.

Namun demikian, Gubernur Tokyo Yuriko Koike enggan menangguhkan langkah-langkah ekonomi nasional, meski harus menghadapi wabah COVID-19 terbesar di negara itu.

Koike pada Rabu (25/11) telah mengumumkan bahwa bar karaoke dan tempat makan yang menyajikan alkohol di 23 distrik kota dan wilayah barat Tama akan diminta untuk tutup pada pukul 10 malam selama tiga minggu mulai Sabtu (28/11).

Tokyo juga menangguhkan program subsidi perjalanan lokal yang dimaksudkan untuk melengkapi kampanye Go To Travel dari pemerintah pusat, dan kampanye Go To Eat. Program ini bertujuan untuk membantu bisnis industri makanan untuk jangka waktu yang kurang lebih sama.

Perdana Menteri Yoshihide Suga pada Sabtu (23/11) mengumumkan bahwa daerah-daerah yang mengalami lonjakan Virus Corona akan dihapus dari kampanye perjalanan. Setiap keputusan akan dibuat bekerjasama dengan gubernur kota.

Hingga kini total ada 141.002 kasus Corona di Jepang. Dari angka itu 2.078 orang meninggal dunia dan 117.037 orang sembuh serta sisanya masih dalam perawatan. Dalam pekan ini total ada 1.500 an lebih temuan penularan Virus Corona.

Pada akhir Februari, Hokkaido adalah prefektur pertama di Jepang yang mengumumkan keadaan darurat. Keputusan itu dibuat beberapa minggu sebelum pemerintah pusat mengumumkan keadaan darurat di tujuh prefektur pada awal April. Perintah itu kemudian diperpanjang secara nasional 10 hari kemudian dan dicabut sepenuhnya pada 25 Mei.

Deklarasi keadaan darurat saat itu diberlakukan saat Shinzo Abe masih menjabat sebagai Perdana Menteri Andylala.

Baca juga :  Corona Naik, Jepang tidak berencana Menutup Sekolah

Tonton juga :

https://youtu.be/s2SO3KWU-6Y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.