Beranda Politik Jabar Siaga Bencana Hidrometeorologi hingga Pertengahan 2021

Jabar Siaga Bencana Hidrometeorologi hingga Pertengahan 2021

349
0
sumber : google.com

NIINDO.COM –  Kesiapsiagaan dalam  mengantisipasi bencana hidrometeorologi di Jawa Barat ini akan  menjadi perhatian hingga pertengahan tahun 2021 yang akan datang . Fenomena La Nina ini  berpotensi meningkatkan bencana akibat kondisi cuaca ekstrem, sesuai dengan variasi bentang alam di provinsi tersebut.

Dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebut bahwa  kondisi ini berlangsung kurang lebih enam bulan,  di mulai dari dua bulan terakhir tahun 2020 hingga 4-5 bulan awal tahun 2021. Kesiapsiagaan ini mencakup konsolidasi semua sumber daya untuk menghadapi potensi bencana, mulai dari kesiapan petugas hingga edukasi kepada masyarakat.

“Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah  menyampaikan, musim hujan  ini dimulai lebih awal di bulan Oktober sebagai potensi La Nina. Apalagi, 60 persen kebencanaan hidrologis di Indonesia itu ada di Jabar,” kata Kamil dalam Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi di Gedung Sate, Bandung, Rabu (4/11/2020).

Baca juga :  Pemerintah Jepang Bakal Larang Drone dari China

Dan Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kamil memberikan tanggung jawab kepada perangkat kewilayahan dan lembaga lainnya terkait kesiapsiagaan ini. Tanggung jawab ini, antara lainnya, mitigasi potensi korban kebencanaan, edukasi pencegahan bencana, dan sikap responsif terhadap kebencanaan yang terjadi di wilayah masing-masing.”Kita semua yang memahami potensi secara keilmuan harus bersiaga.

sumber : google.com

Saya menitipkan kepada pimpinan untuk menyiapkan berbagai skenario, bagaimana peringatan dini harus berfungsi. Edukasi ini bisa dengan penggunaan tanda-tanda seperti sirene, kentongan, penggunaan grup ponsel, apa pun itu,” ujarnya.

Kamil [pun  menyatakan, Jabar harus dipahami sebagai sebuah geografis sehingga setiap pihak bergerak secara alamiah bersama kearifan lokal. Jabar bagian tengah ke utara memiliki tanah yang cenderung datar dengan mayoritas warga bermukim di daerah ini.  dan Sebaliknya, bagian tengah ke selatan Jabar memiliki kontur tanah yang miring sehingga hujan berpotensi menyebabkan banjir bandang dan longsor.

Dari Rangkaian bencana hidrometeorologi ini sudah terlihat sejak Oktober di Jabar. Setidaknya tiga daerah di Jabar Selatan, yakni Sukabumi, Garut, dan Tasikmalaya, dilanda banjir bandang dan tanah longsor. Banjir  ini berada di permukiman warga pun telah melanda beberapa daerah di Kota Bandung dan Bekasi.

Dan Bencana alam tersebut berdampak pada puluhan ribu warga, bahkan di antaranya sampai harus mengungsi. Banjir ini  merenggut korban jiwa disebagian daerah , seperti yang terjadi di Kecamatan Cicurug, Cidahu, dan Kecamatan Parung Panjang, Senin (12/9/2020). Banjir ini menyebabkan tiga warga meninggal.

Dalam peta prakiraan curah hujan bulanan dari BMKG yang diakses pada Rabu (4/11/2020) pukul 19.00 menunjukkan, Jabar bagian selatan diprediksi mengalami curah hujan tinggi dalam tiga bulan ke depan. Bahkan, peta prediksi untuk November menunjukkan curah hujan sangat tinggi (lebih dari 500 milimeter) terjadi di sekitar daerah Sukabumi dan Cianjur.

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, musim hujan di Indonesia datang secara bertahap dan diprediksi berakhir sekitar akhir Maret atau April 2021. Dalam musim hujan tahun ini, BMKG Jepang, Amerika Serikat, dan Australia telah mendeteksi terjadinya La Nina di Samudra Pasifik.

”La Nina ini akan mengakibatkan aliran massa udara basah yang lebih kuat daripada normalnya dari wilayah pasifik masuk ke Indonesia, terutama Indonesia timur, tengah, dan utara. Dampaknya adalah curah hujan bulanan di Indonesia ini akan semakin meningkat. Peningkatan ini bervariasi atau tidak seragam dari segi ruang dan waktu,” tuturnya.

Baca juga : Hotel Dilengkapi Google Nest Hadir di Cilegon, Pertama di ASEAN

Tonton juga :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here