NIINDO – Hari Senin (01/07/2024) menandai enam bulan sejak gempa besar pada 1 Januari melanda Semenanjung Noto di pesisir Laut Jepang.
Gempa tersebut menyebabkan jaringan telepon seluler setempat putus di banyak daerah. Hampir 60 persen kabel BTS mengalami kerusakan yang jauh lebih parah dibandingkan bencana-bencana sebelumnya.
Gempa tersebut menyebabkan lebih dari 3.300 orang terisolasi di 24 wilayah di bagian tengah Prefektur Ishikawa.
Yamashita Tomotaka, seorang tokoh masyarakat di daerah pegunungan Kota Wajima, mengatakan tanah longsor memutus tiga jalan akses ke sana.
Baca juga : Jepang Larang Penjualan 14 Produk Mengandung Bahan Mirip Ganja
Ia mengatakan semua telepon seluler dan telepon tetap tidak berfungsi segera setelah guncangan terjadi.
Warga tidak dapat meminta bantuan dari pemerintah kota atau siapa pun.
“Bahkan mustahil untuk memanggil ambulans. Sungguh sulit tanpa alat komunikasi apa pun,” kata Yamashita.
Enam hari setelah gempa, warga akhirnya bisa melakukan kontak dengan dunia luar. Sepuluh hari setelah guncangan, helikopter Pasukan Bela Diri (SDF) tiba untuk mengangkut sekitar 30 warga ke lokasi yang lebih aman.
Masyarakat di wilayah lain di prefektur itu juga mengalami masalah serupa. Survei Kementerian Komunikasi Jepang menemukan bahwa 57 persen kabel menjadi tidak berfungsi akibat tanah longsor atau masalah lainnya. Situasinya jauh lebih buruk dibandingkan gempa dan tsunami tahun 2011 di Jepang timur laut.
Profesor Nakamura Isao dari Universitas Toyo mengatakan, “Di daerah pegunungan di Semenanjung Noto, gempa memicu tanah longsor yang menyebabkan kerusakan parah pada jalur transmisi. Kehidupan sehari-hari masyarakat dan fungsi administratif bergantung pada telekomunikasi. Hal ini menjadi makin penting. Saya pikir penting untuk memelihara sejenis saluran informasi yang berkesinambungan dan dapat diandalkan.”
Baca juga : 76 Kematian yang Mungkin Terkait Suplemen “Beni-Koji” Diselidiki
Jaringan komunikasi satelit Amerika Serikat (AS), Starlink, dipasang di tempat evakuasi dan di tempat lain hingga koneksi telepon seluler dan internet pulih. Lebih dari 600 perangkat, termasuk antena penerima, dipinjamkan oleh perusahaan AS itu dan pemerintah Jepang.
Sistem Starlink dipasang di pusat evakuasi di Kota Suzu. Iseki Juichi adalah warga yang melakukan pekerjaan layanan radio. Ia mengatakan beberapa orang tidak tahu bagaimana memanfaatkan sepenuhnya sistem baru ini.
Kelompok dukungan medis yang mengunjungi tempat evakuasi tidak dapat menggunakan aplikasi untuk terhubung ke sistem, jadi Iseki membantu mereka mengatasinya. Ia mengatakan bahwa di tempat evakuasi lainnya, antena dipasang di tempat dengan penerimaan sinyal yang buruk.
Kementerian Komunikasi sedang merencanakan cara untuk memperbaiki sumber listrik darurat di BTS-BTS utama. Kementerian ingin koneksi satelit antar-BTS tetap tersedia jika kabel listrik terputus.
Kementerian juga menyiapkan sistem yang memungkinkan penduduk setempat memiliki komunikasi yang aman ketika terjadi bencana.
Dikutip dari NHK World Japan
