NIINDO – Inovasi teknologi memiliki kecenderungan untuk memicu perubahan di seluruh kehidupan dan seni bukan merupakan pengecualian. Hal itu yang membuat pemerintah Distrik Shibuya, salah satu area yang terkenal di Tokyo, menggelar acara dengan jangkauan luas untuk menyoroti peran teknologi dalam masa depan seni.
Ekstravaganza seni tersebut merupakan acara serupa yang pertama digelar di Shibuya dan berlangsung selama tiga hari di 17 tempat, termasuk sejumlah galeri, tempat pertunjukan musik, dan kafe.
Penyelenggara dapat menutup salah satu jalanan utama untuk sebuah parade oleh kolaborasi seni digital yang terkenal “FriendsWithYou.”
BACA JUGA : Maestro Konduktor Ozawa Seiji Meninggal pada Usia 88 Tahun
Mereka juga mengubah lokasi yang paling banyak difoto yaitu Shibuya Scramble Crossing menjadi museum malam dengan seni digital yang ditayangkan melalui empat layar besar menghadap ke persimpangan, bukan menampilkan iklan seperti biasanya.
Distrik itu juga memilih sekitar puluhan perusahaan rintisan untuk menampilkan, menggambar pada karya lebih dari 90 seniman dan kreator.
Di antaranya adalah sebuah perusahaan yang menjual bagian kepemilikan dari miniatur pohon bonsai melalui NFT atau aset digital mewakili barang berharga yang nilainya tidak dapat digantikan.
Calon perusahaan rintisan juga mendapatkan kesempatan untuk melontarkan gagasannya dalam sebuah acara kepada investor yang tertarik menggelontorkan uangnya bagi inovasi.
BACA JUGA : Tanda-Tanda Pemulihan Dunia Usaha yang Terdampak Gempa Noto
Membawa orang melampaui Scramble Crossing
Bagian dari ide dibalik acara tersebut adalah membuat orang-orang untuk berjalan-jalan di Shibuya dan menjadi akrab dengan seluruh area tersebut.
Itu merupakan bagian dari upaya oleh pemerintah daerah untuk menyampaikan bahwa perusahaan rintisan, baik domestik dan internasional, disambut di sini dan menyebarkan lebih banyak yang ditawarkan oleh distrik tersebut.
Untuk turis, para pejabat menginginkan agar orang-orang menemukan tempat-tempat selain Scramble tersebut. Wisatawan sering mengambil foto di persimpangan, kemudian pergi dari Shibuya ke area lain di Tokyo.
Para pejabat juga berharap warga lokal akan mendapatkan kesempatan untuk menyentuh dan merasakan teknologi baru serta menyadari bahwa seni dan teknologi tidak perlu dikhawatirkan, lebih tepatnya, sesuatu yang dapat menyenangkan.
BACA JUGA : Penyebab Orang Indonesia Banyak yang Bekerja di Jepang
Dampak teknologi terhadap seni
Kunoh Kyoko, Duta Ars Electronica di Japan, merupakan salah seorang juri yang menyeleksi perusahaan rintisan terbaik di ajang tersebut. Grupnya merupakan sebuah institut budaya, pendidikan, dan sains yang berbasis di Linz, Austria. Institut itu dikenal secara global karena festival seni media baru yang diselenggarakan setiap tahun.
Kunoh mengatakan seni dan teknologi selalu berkembang dan begitu pula Shibuya. Ia memandang area itu sebagai sebuah pusat anak muda dan budaya jalanan terkini, yang membuatnya sebuah tempat yang cocok untuk acara tersebut.
BACA JUGA : Tahan Gempa, Ini Rahasia Kokohnya Bangunan di Distrik Akasaki Jepang
Kunoh juga merasa Jepang adalah unik karena banyak orang menghindar dari seni tradisional, berpikir itu merupakan sesuatu yang terlalu mewah atau kelas tinggi. Namun, sebagian besar orang terbuka dengan teknologi baru, apakah itu dalam bentuk gawai, musik digital, atau, dalam kasus ini, seni.
Ia mengatakan ini merupakan sebuah acara yang bagus untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Jepang seperti, memiliki sesuatu yang ditawarkan dan bagi orang -orang untuk merasakan bahwa seni merupakan sesuatu yang dinikmati setiap hari.
Kunoh mengatakan teknologi-teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) generatif akan menawarkan kemungkinan baru bagi para seniman untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dan mengajukan pertanyaan mengenai arti teknologi bagi masyarakat. Itu merupakan sebuah konsep dalam acara seperti yang diselenggarakan di Shibuya.
Dikutip dari NHK NEWS
