Dikutip dari Siaran Pers Kemendag di Tokyo (29/11), Potensi kerja sama Indonesia dan Jepang dalam sektor energi terbarukan terbuka lebar. Hal ini ditegaskan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat menyaksikan penandatanganan kontrak kerja sama antara Presiden JAG Energy co.ltd Yusuke Masuda dan PT. Awina Sinergi Indonesia Ananda Setiyo Ivannanto hari ini, Rabu (29/11) di Tokyo, Jepang. Kemendag juga memimpin delegasi misi dagang Indonesia ke Negeri Matahari Terbit tersebut dengan harapan ada peningkatkan komitmen untuk memberikan akses lebih luas bagi produk-produk Indonesia
“Dalam kontrak kerja sama disebutkan bahwa PT. Awina Sinergi Indonesia akan memasok bahan bakar pembangkit listrik tenaga bio massa berupa cangkang kelapa sawit sebanyak 100.000 ton per tahun yang dimulai tahun 2018,” ungkap Mendag.
Selain penandatanganan MoU, Mendag didampingi Utusan Khusus Presiden untuk Jepang, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), dan Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), juga menerima audiensi PT. Awina Sinergi Indonesia dan JAG Energy Co. Ltd Jepang.
Dalam pertemuan tersebut JAG Energy co.ltd berharap PT. PT. Awina Sinergi Indonesia dapat menyuplai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga bio massa. Sementara Mendag juga mengutarakan agar JAG energy co.ltd dapat berinvestasi di sektor Pembangkit Listrik Tenaga Bio Massa di Indonesia atau energi terbarukan lainnya.
Setelah itu, agenda dilanjutkan dengan pertemuan Mendag dan Toyota Motor. Dalam pertemuan tersebut Mendag mengutarakan agar service after sales dapat dipegang oleh perusahaan lokal. Mendag juga berharap Indonesia menjadi production hub, bukan hanya pasar bagi Toyota. “Ini dapat menggenjot ekspor dari pabrik Toyota yang berlokasi di Indonesia,” imbuh Mendag.
Sementara itu, Toyota Motor menyampaikan akan terus bekerja sama dengan Indonesia dan meningkatkan investasinya di Indonesia.
One on One Business Matching
Menurut Enggartiasto, misi dagang kali ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan Mendag dengan Delegasi JETRO yang dipimpin Wakil Presiden JETRO Yuri Sato pada 10 Agustus 2017 lalu di Kantor Kemendag, Jakarta.
Pada pertemuan tersebut kedua pihak berkomitmen meningkatkan hubungan kerja sama kedua negara di bidang ekonomi dan perdagangan. Saat itu, JETRO mengundang para pelaku usaha Indonesia mengunjungi Jepang dan akan mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan pelaku usaha Jepang atau one on one business matching.
Kemendag memfasilitasi one on one business matching yang mempertemukan 19 pelaku usaha Indonesia dengan importir/distributor Jepang. One on one business matching ini dibagi ke dalam lima sektor usaha, yaitu makanan dan produk herbal, tekstil dan produk tekstil, kertas dan produk kertas, manufaktur (ban, pupuk) dan energi terbarukan, serta aneka produk kreatif (mainan, fesyen, furnitur, teknologi, dekorasi rumah) dan jasa tenaga kerja.
One on one business meeting dibuka oleh Dirjen PEN dan diikuti antara lain oleh PT Bustabica Bumi Pasemah (kopi), PT Coco Sugar Indonesia (gula kelapa), PT Berkah Haramain (kopi), Kasaba
Pratama (bumbu, produk herbal, keripik), UD Cahaya Kencana (mi, kerupuk udang, aneka camilan), PT Sinde Budi Sentosa (produk herbal), UD Ray Agri Indonesia (jagung, blewah jepang), PT Iroha Sidat Indonesia (olahan hasil laut), PT Rezeki Inthi Artha (tuna, buah-buahan), PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (tekstil dan produk tekstil), PT Tjiwi Kimia (perlengkapan alat tulis), PT Multistrada Arah Sarana, Tbk (ban), PT Pupuk Indonesia (pupuk), PT Awina Sinergi Indonesia (energi terbarukan), PT Bio Takara (bulu mata sintetis, rambut palsu), CV Riverina (furnitur), Haena Duta Cemerlang (tenaga kerja), PT Chateda (mainan), serta Jiritsu Nusantara (tenaga kerja).
Produk Indonesia yang diminati buyer Jepang antara lain kakao dan produk tuna kaleng dari PT Rezeki Inti Graha, Coco sugar organic produk PT Coco Sugar Indonesia dan kopi produksi PT Berkah Haramain mendapat calon buyer dari AEON. Mainan produksi PT Chateda produsen juga mendapat calon buyer yang berminat memesan mainan anak edukasi berkarakter.
Hal yang menarik adalah terjadinya deal antara sesama peserta yaitu Kasaba Pratama dengan Sinde Budi Pratama sebesar Rp 190 juta untuk produk bumbu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai total perdagangan nonmigas Indonesia-Jepang pada periode tahun 2012-2016 memperlihatkan pertumbuhan yang negatif sebesar 14,70 persen.
Namun, total perdagangan Indonesia-Jepang pada periode Januari-September tahun 2017 tercatat 23,8 miliar dolar AS dan memberikan surplus bagi Indonesia sebesar 2,5 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 11,63 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 21,3 miliar dolar AS pada periode serupa.
Produk ekspor utama Indonesia ke Jepang pada tahun 2016 antara lain batubara, biji tembaga, nikel, kayu lapis, udang, kertas dan produk kertas, minyak sawit dan turunannya, furnitur, kopi, alas kaki, pakaian, dan ban kendaraaan bermotor.
