ホーム Entertainment Sejarah Masjid Tertua Di Jepang, Masjid Camii.

Sejarah Masjid Tertua Di Jepang, Masjid Camii.

1392
0
Image Source : Google.com

Masjid Camii atau Tokyo Mosque tercatat dalam sejarah sebagai salah satu masjid tertua di Jepang yang dibangun pada dekade 1930-an. Dikutip dari Feeding Japan: The Cultural and Political Issues of Dependency and Risk (2017) yang disunting Andreas Niehaus dan Tine Walravens, masjid ini dibangun oleh kaum imigran Tatar dan Bashkir pada 1930 dan selesai tahun 1938. Kaum Tatar dan Bashkir merupakan orang-orang keturunan Turki yang semula menetap di negara-negara Eropa Timur, termasuk Rusia, Uzbekistan, Kazakhstan, Ukraina, Tajikistan, Kirgizstan, Turkmenistan, serta Azerbaijan.

Mereka melarikan diri setelah Revolusi Bolshevik di Rusia pada 1917, di antaranya menuju Jepang. Buku An Ethnohistorical Dictionary of the Russian and Soviet Empires (1994) suntingan James Stuart Olson dan kawan-kawan menyebutkan, umat muslim dari etnis Tatar dan Bashkir menganut Islam Sunni Mazhab Hanafi.

Image Source : Google.com

Dilansir dari Tirto.id Masjid Camii yang berlokasi di Distrik Shibuya, Tokyo, dibangun di bawah pengawasan Abdurreshid Ibrahim, tokoh Tatar kelahiran Rusia. Sementara yang menjadi imam pertama masjid ini adalah Muhammed-Gabdulkhay Kurbangaliev atau Abdulhay Kurban Ali, seorang pemuka agama Islam dari Suku Bashkir. Selain menjadi tempat berkumpulnya komunitas muslim di Jepang, di lingkungan kompleks Masjid Camii juga didirikan sekolah keagamaan serta dijadikan sebagai pusat kebudayaan Islam, khususnya budaya Turki.

Tercatat dalam artikel “Japan’s Largest Mosque Completed in Tokyo” yang dimuat Kajima News & Notes (2000), Masjid Camii di Tokyo didirikan di atas lahan seluas 1.477 meter persegi. Dengan ukuran 734 meter persegi, masjid ini memiliki 4 lantai, dengan 1 lantai di bawah tanah. Tinggi kubah utamanya adalah 23,25 meter dan ditopang oleh 6 pilar dengan menara setinggi 41,48 meter. Pada 1986, masjid ini sempat dirubuhkan karena mengalami kerusakan struktural yang cukup parah.

Pembangunan ulang Masjid Camii baru dilakukan pada 1998 yang dipimpin oleh arsitek kenamaan berdarah Turki, Muharrem Hilmi Senalp. Masjid ini dibangun dengan ornamen khas Ottoman, sebagian besar bahannya didatangkan langsung dari Turki. Pemerintah Turki melalui perwakilannya di Jepang menanggung seluruh biaya rekonstruksi masjid ini yang menghabiskan dana sekitar 1,5 miliar yen atau sekitar 190 miliar rupiah dengan kurs saat ini. Tanggal 30 Juni 2000, sebagaiman dilansir The Japan Times edisi 1 Juli 2000, pembangunan ulang Masjid Camii selesai dan diresmikan penggunaannya.

Image Source : Google.com

Kompleks Masjid Camii di Tokyo sangat mendukung perkembangan muslim di Jepang. Islamic Center of Japan (IJC) yang didirikan pada 1966 turut mengelola masjid ini, termasuk dengan membuka Yuai International School yang menyelenggarakan kelas-kelas pembelajaran Alquran, pendalaman ajaran Islam, pelatihan kaligrafi, bahkan kelas bela diri. Pada perkembangannya, masjid ini tidak hanya digunakan sebagai pusat peribadatan dan pengajaran agama Islam, namun juga difungsikan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti pameran, konferensi, pertunjukan, pernikahan, ajang peragaan busana, serta tempat tujuan wisata religi di Jepang.

返事を書く

あなたのコメントを入力してください。
ここにあなたの名前を入力してください