Beranda » Melihat Sistem Kurikulum Pendidikan yang Digunakan Negara Jepang

Melihat Sistem Kurikulum Pendidikan yang Digunakan Negara Jepang

  • oleh
Kurikulum di Jepang

Kualitas pendidikan di Jepang memang sudah tidak perlu dipertanyakan kembali, apabila kita melihat keberhasilan Jepang untuk membuat sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu hal yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah kurikulum pendidikan di Negara tersebut. Hal seperti itu hampir sama seperti di Indonesia yang gemar ganti kurikulum pendidikan, Negara maju seperti Jepang pun kerap mengganti kurikulum. Perubahan seperti itu, mau tidak mau dapat membawa dampak perubahan permintaan akan kualifikasi dan kompetensi pendidik yang ada di Jepang.

Menurut Pakar Ahmad Sentosa dalam artikel yang berjudul Kurikulum dan Kompetensi Guru di Jepang, beliau menjelaskan jika untuk level pendidikan taman kanak-kanak (TK), di Jepang cenderung menjadi lembaga pengembangan dan pelatihan kebiasaan sehari-hari. Apabila dilihat dari sudut pandang manapun, pada level TK bukanlah untuk pengajaran, melainkan lebih tepat disebut dengan pendidikan.

Anak TK di Jepang

Jika untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), disana sifat dan karakteristik kurikulum di Jepang hampir sama dengan kurikulum SD di Indonesia. Hanya saja terdapat hal yang membedakan yakni pada mata pelajaran kebiasaan hidup yang umumnya diajarkan di kelas 1 dan 2. Hal ini bertujuan agar anak-anak lebih mengenal dan membiasakan diri untuk menerapkan pola hidup mandiri. Daripada mengajarkan mata pelajaran IPA atau IPS, Jepang sendiri lebih memilih untuk memperkenalkan tata cara kehidupan sehari-hari kepada anak-anak yang baru saja lulus dari tingkat TK dan lebih memfokuskan kegiatan bermain daripada belajar pada saat di dalam ruangan kelas.

 

Anak SD di Jepang

Untuk pendidikan SMP, kurikulum yang digunakan menitik beratkan pada pendidikan bahasa Jepang, matematika, IPA dan IPS. Pendidik di Jepang juga masih belum mewajibkan bahasa asing seperti Inggris dan Jerman, kedua bahasa ini bersifat pilihan bagi setiap murid bisa memilihnya. Namun pada kurikulum tahun 2002, pelajaran bahasa Inggris baru dijadikan pelajaran wajib di level SMP. Terdapat juga pelajaran pilihan lainnya seperti bahasa jepang, IPS, matematika, IPA, musik, Art, pendidikan jasmani, ketrampilan, dan bahasa asing. Selain pendidikan utama, di Jepang juga dilengkapi dengan pendidikan ekstrakurikuler seperti halnya di Indonesia.

anak smp di jepang

Jika dibandingkan antara kurikulum SD dan SMP, kurikulum pembelajaran SMA di Jepang paling sering berubah. Pada tingkat ini sudah diadakan sistem penjurusan sama halnya seperti di Indonesia. Sifat khas dari kurikulum SMA adalah kompleksnya pelajaran yang akan diajarkan. Contohnya seperti pelajaran bahasa Jepang yang mulai dikelompokkan menjadi literatur klasik dan modern. Penjurusan juga dilakukan di kelas 3, jurusan yang ada meliputi IPA dan budaya atau sosial. Namun seiring dengan berjalannya waktu, penjurusan mengalami perkembangan karena banyaknya lulusan SMA yang memilih untuk masuk ke akademi yang terkait dengan teknik, pertanian, perikanan, kesejahteraan masyarakat, dan lain sebagainya.

 

Anak SMA di Jepang

Bukan hanya di Indonesia saja yang memiliki banyak pro dan kontra tentang kebijakan kurikulum pendidikan, di Jepang juga pun kurikulum dilakukan secara Top down bukan Bottom up. Maka banyak yang tidak dapat diterapkan di sekolah secara optimal. Jepang juga memberlakukan kegiatan belajar di luar secara berkala, mereka diajak untuk berkunjung ke tempat-tempat bersejarah dan lahan pertanian atau perkebunan untuk belajar memetik dauh teh, jeruk, dan menggali untuk mencari umbi-umbian bahkan ada juga yang sampai belajar menanam padi di pematang sawah. Pada lain waktu, siswa secara berkelompok diajarkan bagaimana cara menumpang kereta (densha) hal tersebut dilakukan agar melatih kemandirian, selain itu diselingi dengan kegiatan wawancara dengan berbagai narasumber yang mana nantinya akan dijadikan sebagai bahan untuk presentasi di depan kelas.

Sepertinya untuk bisa menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya bergantung pada sistem pendidikan itu sendiri, melainkan setiap sistem dan orang yang terdapat di dalamnya seperti guru dan para pelajar juga harus ikut untuk mendukung agar mencapai visi dan misi yang sama. Nah, disini Jepang dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas juga tidak semata-mata dengan hasil yang instan tapi menggunakan proses yang hampir sama seperti negara maju lainnya. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, jika proses kurikulum di negara Jepang sendiri tidak terlepas dari kata bongkar pasang, tapi dengan tekad dan loyalitas dari setiap pengajar serta tingkat kedisiplinan pelajar yang baik. Maka pada akhirnya semua itu dapat menciptakan banyak SDM yang berkualitas dan mumpuni.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.