ホーム Business Kisah sukses seorang perantau Tegal di Jepang

Kisah sukses seorang perantau Tegal di Jepang

1557
0
lutfi bakhtiyar

oleh : LUTFI BAKHTIYAR

Jack Ma mengatakan,” Today is hard, tomorrow will be worse, but the day after tomorrow will be sunshine.”
Hari ini keras, besok mungkin sial, tetapi Insya Allah lusa akan menjadi cerah.
Dua puluh tiga tahun yang lalu, saya hanyalah perantauan dari Tegal yang mengadu nasib di Jakarta mengikuti rombongan tukang meubel berharap mencari pengalaman juga peruntungan.
Sialnya, tidak ada satu perusahaanpun yang mau menerima hingga kadang terasa tidak bergunanya sebuah ijazah SMA. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian, dipercaya sebagai merbot mesjid di Maruya-Jakarta.
Dan hidup, perjuangan mengumpulkan serpihan bakat dan pengalaman untuk disusun menjadi tangga, meski hanya terbuat dari sebuah ranting sederhana.
Setahun kemudian, roda berputar membawa kesempatan kuliah di Universitas Indonesia meski bingung bagaimana membiayainya ? Kuliah sambil bekerja dengan jatah makan dikurangi: Sehari sekali. Namun Allah selalu menguatkan hati dengan janji yang berulang kali:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan……( Alam nasyroh 5-6)
Tahun 2004, kemudian meneruskan kuliah di Tokyo University sebagai research student kemudian ke Senshu University untuk meraih gelar Master of Economics, meski dalam kurun (2004-2007) harus tetap mengikuti mata kuliah seminar di Tokyo untuk meneruskan program doctoral.
Pada akhirnya garis hidup membawa untuk bekerja di perusahaan Jepang selepas lulus S2. Beasiswa S3 terpaksa dilepaskan demi pengalaman yang lebih “mendebarkan”. Disebut mendebarkan karena keputusan ini sudah pasti ditentang oleh para professor yang menginginkan agar saya melanjutkan S3.
Tetapi ada satu pertanyaan yang misterius saat universitas Tokyo rajin memberikan informasi bagi mahasiswa asing bila menjadi korban rasisme. Rasisme ?
Belakangan ketahuan bahwa orang Jepang bersifat ramah kepada mahasiswa asing karena menganggap mereka sebagai okyaku (tamu), sedang saat saya bekerja di Jepang mereka akan menganggap sebagai rival yang pasti dicari-cari kelemahannya.
Saya sendiri tidak kaget kalau banyak perawat senior yang gagal ujian dan akhirnya pulang karena pihak rumah sakit tidak memberikan kesempatan untuk belajar plus memberikan pekerjaan berbeda dengan kemampuan: Hanya ditugasi mencuci pakaian kotor. Toh pertama kali bekerja sebagai front office sebuah hotel dengan tugas shift malam sendirian…..hiks…..
Pepatah Jepang mengatakan: Isi no ue nimo san nen (andai duduk di atas batu selama 3 tahun maka, batu yang dingin akan berubah menjadi hangat).
Tahun ke-3 pun masih menjadi petugas malam…tetapi yang berbahagia karena tidak sedikit tamu yang kenal dan ternyata lumayan juga tipsnya….(rahasia ya…karena tamu tidak pernah memberi tip ke karyawan Jepang).
Sayangnya Jelang tahun ke-4 Jepang dilanda gempa besar, hotel sepi sayapun jobless dan beralih profesi ke perusahaan travel. Setidaknya 3 kali berganti-ganti, masalahnya tidak sedikit perusahaan yang termasuk dalam black kigyo (perusahaan hitam), kerja maximal, gaji minimal tanpa lembur. Diadukan ke serikat buruhpun percuma, toh perusahaan hitam memang sudah terbiasa menyiksa karyawannya….
Sekarang bekerja di KRONOS INTERNATIONAL CO.,LTD. yang reputasinya dikenal dengan sangat baik oleh garuda.
Pada akhirnya kesuksesan ataupun kegagalan hanyalah dua sisi yang sangat berdekatan. Dan hendaknya kita selalui mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Nya karena sesial-sialnya orang adalah mereka yang tidak pernah bersyukur.
Salam kenal, jangan segan mampir ke kantor ya……
Yoroshiku onegaishimasu
LUTFI BAKHTIYAR

返事を書く

あなたのコメントを入力してください。
ここにあなたの名前を入力してください