Kementerian Perindustrian dan Japan External Trade Organization (Jetro) menyelenggarakan Indonesia Investment Business Forum (IIBF) di Tokyo dan Nagoya, Jepang.
Acara tersebut berlangsung di The Capitol Hotel Tokyo dan dihadiri oleh sekitar 500 orang pengusaha Jepang yang berasal dari sektor industri otomotif, elektronika, serta industri makanan dan minuman.
Dikutip dari Bisnis.com, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan ajang IIBF dilaksanakan untuk memberikan keyakinan kepada perusahaan Jepang untuk berinvestasi di sektor manufaktur di Indonesia. Sepanjang Januari-Juni 2017, penanaman modal langsung (foreign direct investment/FDI) dari Jepang tercatat mencapai Rp2,84 triliun.
Penyelenggaraan IIBF merupakan bagian dari rangkaian kegiatan program kerjasama antara Kemenperin dengan Jetro. Kerjasama ini dilakukan dalam konteks pengembangan daya saing internasional di industri manufaktur.
IIBF kali ini mengusung tema “Promoting Investment from Japan to Indonesia and Facilitating Cooperation between Indonesian and Japan Companies”.
“Berbagai investasi dari Jepang, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, terus bergulir ke Indonesia. Ini bukti iklim investasi yang membaik dan masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan pengusaha Jepang di sektor manufaktur,” tutur Airlangga dalam sambutan IIBF di Tokyo, Selasa (17/10).
Dalam kunjungan kerja ini, Airlangga membidik perusahaan Jepang berskala menengah dan kecil untuk berinvestasi di Tanah Air. Perusahaan tersebut didorong untuk masuk ke kawasan industri sehingga berpotensi menerima insentif, termasuk tax allowance bagi perusahaan yang berorientasi ekspor dan padat karya. Pasalnya, selama ini lebih banyak perusahaan besar yang menanamkan modal di Indonesia karena risk appetite perusahaan menengah Jepang yang relatif konservatif.
Ada tiga sektor yang ditawarkan kepada investor potensial di Jepang, yakni sektor otomotif, elektronik, serta makanan dan minuman.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten di atas 5% dalam 4 tahun terakhir, upah pekerja yang lebih rendah dibandingkan dengan China, reformasi birokrasi yang dijalankan pemerintah, dan peringkat investment grade Indonesia dari tiga lembaga rating global merupakan momentum tepat bagi perusahaan menengah asal Jepang melebarkan sayap ke Tanah Air.
Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Harjanto menambahkan saat ini ada 32 kawasan industri di seluruh Indonesia. Kawasan industri itu tersebar mulai dari Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Riau, DKI Jakarta hingga Kalimantan Timur.
“Dengan investasi minimal US$8 juta atau mempekerjakan paling sedikit 1.000 karyawan, perusahaan asing bisa mengurus izin usaha di kawasan industri hanya dalam waktu 3 jam,” ucapnya.
Harjanto menambahkan pula masih banyak peluang investasi yang cocok untuk investor Jepang, seperti sektor tekstil dan petrokimia. Di sektor tekstil, peluang terbuka di industri dyeing process. Adapun di sektor petrokimia, Kemenperin mengundang investor untuk masuk ke industri turunan petrokimia.
Selain itu, sektor farmasi, kosmetik, dan obat tradisional, makanan dan minuman yang merupakan produk turunan dari CPO, kopi, dan kakao, produk hilir karet, furniture kayu dan rotan, software dan elektronik, serta industri kerajinan tangan, fesyen dan perhiasan.
“Investor juga bisa manfaatkan pusat logistik berikat sehingga ada kemudahan impor bebas bea masuk dan pajak impor untuk produk orientasi ekspor,” paparnya.
Pada kesempatan tersebut, tiga perusahaan pengelola kawasan industri memperkenalkan diri kepada perusahaan Jepang yang hadir dalam IIBF, yakni PT Suryacipta Swadaya, PT Modern Industrial Estate, dan PT Bumi Anugerah Makmur.
General Manager Marketing PT Modern Industrial Estat Erwin Wijaya menuturkan anak usaha PT Modernland Realty Tbk. ini mengelola kawasan industri seluas 3.175 hektare yang berlokasi di dekat Cilegon, Banten. Tingkat okupansi salah satu kawasan industri tertua ini hampir mencapai 50% dengan luas sekitar 1.400 hektare yang didominasi oleh industri makanan dan minuman, industri baja, kimia, serta bahan bangunan dan komponen otomotif.
“Masih ada areal yang cukup luas hampir 2.000 hektare. Setelah ada tol Cikande, ini akan jadi kawasan industri paling strategis di barat Jakarta,” kata Erwin.
Sementara itu, Michael Rotinsulu dari PT Bumi Anugerah Makmur memaparkan profil Artha Industrial Hall yang berlokasi di Karawang Barat. Kawasan industri tersebut memiliki areal seluas 390 hektare dan menyediakan kapling dengan luas 3.000 meter persegi hingga 70.000 meter persegi sesuai kebutuhan investor.
PT Suryacipta Swadaya diwakilkan oleh mitra perseroan di Jepang Masuoka San. Saat ini, anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk. ini mengelola kawasan industri seluas 1.400 hektare di dekat Karawang dan Bekasi.
“Yang sisa tinggal 100 hektare. Sekitar 50% perusahaan yang ada di kawasan industri kami berasal dari Jepang, seperti Isuzu, Daihatsu, dan Nipro,” imbuhnya.
