Bangsa Jepang terkenal dengan budayanya yang tinggi. Minum teh, bagi orang Jepang bukanlah sekedar kegiatan biasa. Di Jepang minum teh telah menjadi sebuah budaya yang baik dan mengandung budi pekerti yang bisa kita pelajari dari cara menyajikan teh untuk tamu. Tradisi minum teh ini sudah dikenal bangsa Jepang sejak abad ke -19, yang dibawa oleh seorang biksu Jepang Eichu yang baru kembali dari China. Pada zaman dahulu disebut chadou/sato atau chanoyu yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia berarti Upacara Minum Teh, dan bila di luar ruangan disebut Nodate. Arti kata chanoyu yang sebenarnya adalah “air panas untuk teh”.

Kegiatan minum teh ini diadakan untuk menyambut orang dekat, tamu, dan keluarga. Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh yang disebut Tea Master. Untuk menjadi ahli chanoyu, dibutuhkan pengetahuan mendalam tentang tipe teh, kimono, kaligrafi Jepang, ikebana dan berbagai wawasan tradisional lain. Teh bukan cuma dituang dengan air panas lalu diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Chanoyu sendiri dianggap sebagai salal satu cara meditasi untuk mendapatkan ketenangan jiwa.

Chanoyu mengajarkan etika untuk menghormati orang yang lebih tua dan cara bertutur kepada yang lebih muda. Selain itu, chanoyu mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir dan agama. Dalam menyajikan minuman, cangkir yang disediakan untuk tamu wanita dan pria juga berbeda. Biasanya para lelaki diberi cangkir yang simple, dan para wanita diberi cangkir bunga. Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh yang menggunakan matcha disebut matchado, sedangkan bila menggunakan teh hijau disebut senchado.
Selengkapnya »Etika Minum Teh Di Jepang