Beranda Uncategorized Jepang Perluas Status Keadaan Darurat Menjadi 11 Prefektur

Jepang Perluas Status Keadaan Darurat Menjadi 11 Prefektur

55
0

NIINDO.COM – Pemerintah Jepang memperluas penerapan Status Keadaan Darurat ke prefektur Osaka, Kyoto, Hyogo, Aichi, Gifu, Tochigi dan Fukuoka pada Rabu (13/1). Sebelumnya pada Kamis (8/1) Status Keadaan Darurat diberlakukan di Tokyo, Kanagawa, Chiba dan Saitama dan akan berakhir pada 7 Februari.

Dikutip dari The Japan Time, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dalam konferensi pers Rabu (13/1) mengatakan penerapan status keadaan darurat ini diberlakukan untuk membendung lonjakan Pandemi Virus Corona semakin meluas.

BACA JUGA : Dubes Indonesia di Jepang Dukung Kuat Forum BBB Dengan Jaringan 47 Perfektur

“Tidak dapat disangkal bahwa banyak infeksi baru dapat dikaitkan dengan remaja yang tanpa disadari terinfeksi dan membawa virus tersebut kepada mereka yang lebih rentan. Keadaan darurat adalah tindakan kuat yang dalam banyak hal membatasi kebebasan pribadi, tetapi perlu jika virus ingin dibendung.” ujar Yoshihide Suga.

Lebih lanjut Suga berharap adanya kerjasama semua pihak dalam menekan lonjakan Infeksi Virus Corona.

“Setelah pandemi selama setahun, orang pasti lelah tetapi wabah itu menyebar lebih banyak di Jepang daripada sebelumnya. Dan kerjasama yang berkelanjutan sangat penting,” tambah Yoshihide Suga.

Total kumulatif Jepang dari kasus Virus Corona yang dikonfirmasi di angka harian mencapai 300.000 pada Rabu (13/1). Ini hanya beberapa minggu setelah jumlahnya mencapai 200.000 pada 21 Desember.

BACA JUGA : Persaingan Ponsel Jepang Menjadi Sengit, Tarif Au Jadi 2480 Yen per 20Gbyte

Jepang Tolak Masuknya Warga Asing Dari 11 Negara

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga juga mengumumkan Rabu bahwa pelancong bisnis dari 11 negara akan ditolak masuk Jepang paling cepat Kamis (14/1). Hal ini berarti pelancong asing yang bukan penduduk Jepang secara efektif akan dilarang memasuki Jepang. Ke-11 negara itu adalah Taiwan, Brunei, Kamboja, China, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapore, Korea Selamatan dan Vietnam.

Tokyo, di mana jumlah infeksi parah mencapai rekor tertinggi, semakin banyak pasien COVID-19 yang ditolak dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan sementara – atau hotel yang digunakan kembali untuk pasien ringan atau tanpa gejala.

Hingga Senin (11/1), lebih dari 70% tempat tidur rumah sakit untuk pasien COVID-19, telah ditempati di prefektur Saitama, Shiga, Osaka, Hyogo, Hiroshima dan Fukuoka.

Selain bar, karaoke dan restoran, bioskop, tempat konser, department store, dan taman hiburan juga disarankan untuk tutup lebih awal.

Dibandingkan saat keadaan darurat April 2020, keadaan darurat saat ini, permintaan penutupan bisnis hanya dikeluarkan untuk restoran dalam upaya menjaga ekonomi tetap bertahan. Juga masih menjadi perhatian utama apakah pemerintah pusat mampu mendukung secara finansial bisnis yang memenuhi permintaan untuk menangguhkan atau mengurangi operasi.

“Berdasarkan hasil dari keadaan darurat pertama dan pelajaran yang didapat sejak saat itu, kami tahu bahwa permintaan penutupan bisnis bukanlah obat mujarab, tetapi memiliki dampak,” kata Shigeru Omi, presiden Organisasi Kesehatan Komunitas Jepang dan ketua subkomite virus korona pemerintah pusat.

Pada hari Rabu, sebelum Suga mengumumkan perluasan keadaan darurat tersebut, para pemimpin partai oposisi dengan cepat menyuarakan perbedaan pendapat mereka.

“Deklarasi tersebut diragukan akan efektif, karena diperluas sedikit demi sedikit tanpa rasa urgensi,” kata Yuichiro Tamaki, pemimpin Partai Demokrat untuk Rakyat, dalam konferensi pers Rabu (13/1).

Para kritikus tmemperingatkan bahwa kepatuhan publik terhadap tindakan pencegahan sukarela sangat berkurang. Dengan kata lain, orang akan berhenti mendengarkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here