Beranda » Heran! Tren Baru Lansia di Jepang, Lebih Senang Hidup di Penjara

Heran! Tren Baru Lansia di Jepang, Lebih Senang Hidup di Penjara

  • oleh
Heran! Tren Baru Lansia di Jepang, Lebih Senang Hidup di Penjara

Ada beberapa hasil penelitian sosial yang menyebutkan, jika  Jepang sebagai pemilik populasi tertua di dunia, dengan lebih dari seperempat warganya berusia 65 tahun atau lebih. Populasi yang menua ini diketahui telah membebani sistem keuangan dan industri ritel Jepang.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada sebuah tren lain yang tak terduga telah terjadi, yakni ketika para lansia nekat melakukan kejahatan ringan agar dapat menghabiskan sisa hidup mereka di penjara.

Dilansir dari South China Morning Post pada Selasa (20/3/2018), pengaduan dan penangkapan yang melibatkan warga lansia telah melampaui demografi kelompok usia lainnya di Jepang. Bahkan, disebutkan jika tingkat kejahatan ringan yang dilakukan para lansia itu telah meningkat empat kali lipat dari sebelumnya selama beberapa dekade terakhir ini.

Di penjara Jepang saat ini, terdapat satu dari setiap lima narapidana adalah lansia. Dalam banyak kasus, sembilan dari sepuluhnya adalah wanita lansia yang biasanya melakukan aksi pengutilan.

Fenomena yang tidak biasa itu berasal dari kesulitan merawat populasi lansia di Jepang. Terutama bagi lansia yang merasa sudah tidak diperdulikan lagi oleh pihak keluarganya. Ada kabar juga yang menyebutkan jika setengah dari penduduk lansia yang tertangkap mengutil diketahui tinggal seorang diri. Mereka berpikir lebih baik berbuat kejahatan agar nantinya bisa dipenjara. Mereka juga memiliki anggapan jika dipenjara lebih diperhatikan daripada di rumah sendiri. Untuk saat ini jumlah penduduk berusia lanjut di sana telah meningkat sebanyak 600 persen antara tahun 1985 dan 2015.

Hal ini sesuai dengan temuan survei sosial oleh pemerintah Jepang, di mana 40 persen dari penduduk lansia mengatakan mereka tidak punya atau jarang berbicara dengan keluarganya. Bagi para manula ini, kehidupan di penjara lebih baik daripada kehidupan normal yang mereka jalani sehari-hari.

“Mereka mungkin punya rumah, mereka juga mungkin punya keluarga. Tetapi itu tidak berarti mereka memiliki tempat yang mereka rasakan seperti makna ‘rumah’ sesungguhnya,” ujar Yumi Muranaka, kepala sipir Penjara Wanita di Iwakuni.

 

Penjara Dianggap Lebih Berikan Suasana Komunitas yang Hangat

Heran! Tren Baru Lansia di Jepang, Lebih Senang Hidup di Penjara

Sementara itu, dari semua masalah yang ditimbulkan oleh lansia itu. Dibutuhkan lebih dari US$ 20.000 (sekitar Rp 275 juta) per tahunnya untuk mengurus narapidana di penjara dalam keadaan normal.

Namun, dengan meningkatnya jumlah narapidana lansia saat ini, membuat biaya pengurusan pun membengkak karena adanya tambahan pos dana khusus untuk perawatan medis.

Atas dasar hal tersebut, banyak petugas penjara mengaku tugas mereka saat ini tak ubahnya menjadi seperti perawat panti jompo.

Akan tetapi, menurut para narapidana lansia, kondisi kehidupan di penjara justru terasa lebih menyenangkan. Mereka mengaku menemukan suasana komunitas yang sudah lama tidak mereka rasakan di luar sana.

“Saya menikmati hidup di penjara ini. Selalu ada orang di sekitar, dan saya tidak merasa kesepian disini. Ketika saya keluar kedua kalinya, saya berjanji bahwa saya tidak akan kembali lagi kesini. Tapi saat saya keluar, saya tidak bisa menahan rasa rindu hidup di balik bui seperti ini,” cerita salah seorang narapidana lansia wanita.

Oleh pemerintah Jepang, tren tidak biasa ini telah dimasukkan ke dalam daftar prioritas pemberantasan masalah sosial. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah meningkatkan sistem kesejahteraan yang menyasar lengkap, mulai dari kesehatan hingga pembinaan komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.