Beranda » Festival Seijin Shiki

Festival Seijin Shiki

  • oleh

Konnichiwa, minna-san. Menurut minna-san, dewasa itu bagaimana sih, minna? Beberapa orang beranggapan dewasa itu jika kita sudah dapat hidup mandiri atau cukup bijaksana dalam mengatur kehidupan kita sendiri. Ada pula yang menganggap seseorang itu dewasa saat menginjak umur 17 tahun, karena saat itu dirinya sudah dapat memiliki id-card, lisensi mengemudi, dan sebagainya. Nah, kalau muda-mudi Jepang beda lagi, minna. Bagaimana ya dewasa di Jepang.

Di Jepang, seorang anak muda belum dikatakan dewasa jika belum mengikuti festival Seijen Shiki. Festival ini bagi masyarakat Jepang merupakan salah satu titik balik dalam kehidupannya. Seijen Shiki dirayakan untuk merayakan usia yang dianggap sudah cukup umur untuk dikatakan dewasa. Usia tersebut yaitu 20 tahun minna. Perayaan biasanya dilakukan oleh pemerintah lokal dengan mengundang muda-mudi yang pada saat itu baru menginjak usia 20 tahun. Biasanya festival ini dirayakan pada minggu kedua bulan Januari minna. Uniknya lagi, minna, festival ini menjadi salah satu hari libur minna. Jadi, masyarakat Jepang yang memasuki usia 20 tahun memang harus datang pada acara tersebut. Beberapa pedesaan bahkan memajukan festivalnya pada awal tahun sehingga masyarakat yang memasuki 20 tahun dapat mengikuti festivalnya sekaligus merayakan libur akhir tahun.

Lalu apa saja yang biasanya dilakukan dalam festival ini ya minna? Pada umumnya peserta (yang akan dilantik sebagai pria atau wanita dewasa) akan menggunakan pakaian resmi dalam menghadiri festival ini. Pakaian resmi ini tidak hanya kimono, minna, tapi juga pakaian resmi pada umumnya seperti dress dan setelan jas. Kenapa, karena umumnya menggunakan kimono bagi sebagian orang agak merepotkan minna (sama halnya bagi masyarakat Indonesia yang lebih memilih menggunakan dress ketimbang pakaian adat saat pesta pernikahan).

Nah dalam rangkaian festival, peserta akan mendengarkan berbagai pidato, menerima cendera mata, dan menerima jamuan makan. Selain itu juga dilakukan foto bersama dengan pemerintah lokal. Meskipun demikian, pada umumnya para peserta lebih memilih berada di luar ruangan festival, minna. Festival ini merupakan satu kesempatan emas bagi para peserta untuk bertemu kembali dengan teman-teman lamanya, bagaikan suatu reuni. Jadi, peserta lebih memilih di luar agar bisa bercengkerama dengan teman-teman lamanya.

Unik bukan, minna-san? Kalau di Indonesia festival semacam ini perlu gak ya minna?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.