NIINDO.COM – Pemerintah Jepang akan menangguhkan program subsidi untuk mempromosikan pariwisata domestik secara nasional atau disebut ‘Go To Travel’ selama liburan Tahun Baru di tengah lonjakan kasus virus korona.
Dikutip dari Kyodo News, Perdana Menteri Yoshihide Suga mengatakan penghentian program Go To Ttavel ini akan berlangsung jelang akhir Desember 2020 hingga pekan kedua Januari 2021.
“Kampanye “Go To Travel” akan dihentikan dari 28 Desember hingga 11 Januari. Dan apakah akan memulai kembali program, akan diputuskan pada saat itu berdasarkan situasi terbaru”, demikian Yoshihide Suga pada pertemuan satuan tugas pemerintah tentang tanggapan lonjakan virus Corona di Jepang.
Pengumuman tiba-tiba datang, setelah jumlah harian infeksi baru di Jepang mencapai 3.000 kasus untuk pertama kalinya pada Sabtu (12/12). Beberapa ahli medis di Jepang menggambarkan kondisi ini sebagai gelombang ketiga pandemi Virus Corona. Hal ini seiring pula dengan menurunnya tingkat dukungan untuk Kabinet Suga dalam jajak pendapat media baru-baru ini.
Baca juga : Mistis! Berikut Tempat Wisata Menyeramkan Di Indonesia
Sementaran itu, subsidi perjalanan untuk ke Tokyo dan Nagoya, akan ditangguhkan sebelum 28 Desember. Kedua prefektur ini mengalami peningkatan tajam penularan Virus Corona dalam beberapa pekan terakhir Masyarakat juga diminta untuk tidak menggunakan program tersebut dalam di kedua daerah tersebut.
Menurut seorang pejabat di Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata mengatakan, Pemerintah akan menanggung biaya pembatalan dan memberikan kompensasi kepada hotel untuk beberapa bisnis mereka yang hilang.

Warga Tokyo Memadati Sebuah Taman Hiburan di Setagaya Tokyo Jepang. Foto Andylala
PM Jepang Yoshihide Suga memperingatkan, jumlah penularan Virus Corona secara nasional terus tinggi. Berdasarkan sejumlah indikator itu lanjut Suga, Pemerintah melihat lebih banyak daerah dengan penularan infeksi Corona.
“Saya meminta masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan dasar terhadap penyebaran infeksi, terutama saat makan. Termasuk mempertimbangkan dengan cermat apakah akan bepergian ke kampung halaman mereka selama liburan. Sehingga kita dapat memiliki tahun baru yang aman dan damai”, kata Yoshihide Suga.
Meski demikian, Yoshihide Suga memastikan, ia tidak berpikir untuk mengumumkan keadaan darurat di Jepang, seperti yang dilakukan pendahulunya Shinzo Abe pada April lalu. Pemerintah lanjut Suga terus berupaya untuk segera membendung penyebaran virus corona, dengan meminta masyarakat untuk tinggal di rumah dan penutupan beberapa bisnis untuk sementara.
Tokyo dan Nagoya mengikuti Sapporo di Hokkaido dan kota Osaka di Jepang Barat, yang dihapus dari inisiatif promosi perjalanan di tengah kebangkitan COVID-19.
Tokyo memutuskan pada Senin (14/12) untuk memperpendek jam buka untuk restoran, bar dan tempat karaoke di sebagian besar ibu kota hingga 11 Januari 2021. Selain Tokyo, Aichi juga membuat keputusan serupa untuk restoran di beberapa bagian Nagoya.
Rata-rata kasus Corona baru selama tujuh hari di Tokyo mencapai 503,9 pada Senin (14/12) setelah pada hari sebelumnya melampaui 500 untuk pertama kalinya sejak dimulainya pandemi. Nagoya melaporkan ada 93 kasus pada hari Minggu (13/12) dengan total 181 kasus baru dikonfirmasi di Aichi.
Gubernur Osaka Hirofumi Yoshimura mengatakan, permintaan beberapa bisnis di beberapa bagian ibu kota prefektur untuk mempersingkat jam kerja atau menangguhkan operasi akan diperluas ke seluruh kota dan berlangsung hingga 29 Desember.
Sebelumnya, kampanye “Go To Travel”, yang secara efektif menanggung sekitar setengah dari biaya perjalanan domestik, diluncurkan pada Juli lalu untuk membantu industri pariwisata mengatasi dampak pandemi.
Liburan akhir tahun biasanya menjadi salah satu periode perjalanan tersibuk di Jepang, dengan pesawat dan kereta cepat shinkansen yang penuh dengan wisatawan dan penduduk kota yang mengunjungi keluarga di pedesaan. (Andylala)
Baca juga : Toyota Group Komitmen Investasi Rp 28 Triliun, Diantaranya Untuk Pengembangan Mobil Listrik di Indonesia
Tonton juga :


