Beranda » Serangan Beruang di Jepang Meningkat, 70 Persen Terjadi di Area Permukiman

Serangan Beruang di Jepang Meningkat, 70 Persen Terjadi di Area Permukiman

  • oleh asyk

NIINDO – Sebuah survei terbaru mengungkap bahwa sekitar 70 persen insiden serangan beruang terhadap manusia terjadi di wilayah tempat masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari.

Hingga Kamis (23/10/2025) siang, tercatat 64 orang di 12 prefektur Jepang menjadi korban serangan beruang sejak awal Oktober. Dari jumlah tersebut, empat orang meninggal dunia.

Menurut laporan NHK bersama peneliti dari Institut Riset Kehutanan dan Hasil Hutan Jepang, Onishi Naoki, hasil analisis terhadap lokasi kejadian menunjukkan bahwa 44 dari 64 korban, atau sekitar 68 persen, diserang di kawasan yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal manusia.

Info selengkapnya: Mau ke jepang tapi bingung apply ke JOB kemana? ke Mahajob aja!

Rinciannya, 18 orang diserang di jalan umum, 15 di sekitar rumah mereka, enam di area permukiman, dan lima di lahan pertanian yang berada tak jauh dari rumah. Selain itu, 13 orang dilaporkan diserang di luar rumah, termasuk di area pintu masuk.

Penelusuran lebih lanjut menemukan bahwa dalam 33 kasus, terdapat sumber makanan atau hasil pertanian yang berpotensi menarik perhatian beruang di sekitar lokasi kejadian. Dari data tersebut, 19 korban diserang di sekitar ladang atau sawah, enam orang diserang saat mencari jamur, enam lainnya saat mengumpulkan kastanya, dan dua orang ketika berada di dekat pohon kesemek.

Berdasarkan wilayah, Prefektur Akita menjadi daerah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 25 orang. Disusul Iwate dengan 10 korban dan Fukushima dengan delapan korban. Sekitar 50 orang, atau 80 persen dari total kasus, terjadi di kawasan Tohoku, wilayah timur laut Jepang yang dikenal dengan populasi menurun dan tingkat penuaan penduduk yang tinggi.

Onishi memperingatkan warga di daerah yang rawan kemunculan beruang agar tetap berhati-hati hingga akhir tahun. Ia menyarankan masyarakat untuk menghindari berjalan kaki pada pagi hari dan menggunakan kendaraan saat malam hari, bahkan untuk perjalanan singkat seperti ke minimarket terdekat. Ia juga menekankan agar warga selalu waspada saat membuka pintu rumah karena beruang bisa saja muncul tiba-tiba di sekitar lingkungan mereka.

Selain itu, Onishi meminta warga agar menjauhkan segala hal yang bisa menjadi sumber makanan bagi beruang. Ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan ketika memasuki kawasan pegunungan habitat alami beruang dengan membawa perlengkapan seperti helm, lonceng beruang, radio, dan semprotan pengusir beruang.

Ia juga menyarankan agar masyarakat menunda aktivitas rekreasi seperti mencari jamur dan sayur liar di hutan untuk sementara waktu.

Onishi menambahkan bahwa meningkatnya kemunculan beruang, terutama di wilayah Tohoku, dipicu oleh depopulasi dan penuaan masyarakat. Banyak lahan pertanian yang ditinggalkan dan rumah kosong, yang secara tidak langsung menciptakan habitat baru bagi beruang untuk berkembang biak dan berkeliaran mendekati permukiman manusia.

Dikutip dari NHK News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.