NIINDO – Dua bulan sejak gempa dahsyat melanda Semenanjung Noto, Jepang tengah, pada Hari Tahun Baru. Memulihkan layanan medis dianggap sebagai langkah penting untuk membangun kembali daerah yang terdampak gempa.
Namun, fasilitas tersebut masih menghadapi tantangan seperti kekurangan pekerja dan kurangnya air bersih.
Salah satu klinik di Kota Noto, Prefektur Ishikawa, masih belum pulih sepenuhnya.
Pasien mulai tiba di klinik pada pagi hari. Sebelum gempa klinik itu buka sampai jam 6 sore. Namun, sekarang tutup tiga jam lebih awal karena salah satu dari dua perawatnya tidak dapat bekerja lagi.
BACA JUGA : Kabar Baik, Jepang Berencana Umumkan Berhasil Atasi Deflasi
Klinik tersebut tidak mempunyai air bersih sejak bencana terjadi. Tangki penyimpanan air hanya digunakan untuk mencuci tangan.
NHK mengonfirmasi 26 dari 35 klinik di daerah yang terkena dampak di Prefektur Ishikawa, termasuk Kota Noto, telah dibuka kembali pada 1 Maret.
Namun, kondisi yang menantang telah memaksa sekitar 30 persen dari klinik-klinik itu membatasi layanannya.
Ada yang hanya menerima pasien yang telah terdaftar sebelum gempa, dan ada pula yang hanya memberikan resep.
Sejima Teruhiro, kepala klinik di Kota Noto, khawatir dengan bertambahnya pasien dengan kondisi serius.
BACA JUGA : Jepang Jadi Ketua DK PBB Selama Maret 2024, Akan Bahas Gaza
Sejima mengatakan saat ini jumlah pasien hanya sedikit, jadi situasinya stabil. Namun, ia khawatir ketidakseimbangan antara jumlah pasien dan kapasitas dapat menyebabkan kekacauan.
Saito Noritoshi adalah anggota Tim Asosiasi Medis Jepang, atau JMAT. Kelompok ini mendukung klinik di daerah yang terkena bencana.
Saito juga merasa prihatin. Ia mengatakan klinik menghadapi keterbatasan peralatan, bahkan tidak bisa melakukan tes darah.
Saito mengatakan pemerintah pusat dan prefektur perlu mendukung institusi medis sebagai infrastruktur utama.
Di kutip dari NHK News
