NIINDO – Lebih dari 10.000 orang masih tinggal di tempat pengungsian delapan pekan setelah gempa kuat pada 1 Januari melanda Semenanjung Noto, Jepang tengah.
Hingga Kamis (22/02/2024) pekan lalu, jumlah rumah di Prefektur Ishikawa yang terkonfirmasi rusak akibat gempa telah bertambah menjadi 75.661 unit.
Upaya sedang dilakukan untuk membuang puing-puing, memulihkan pasokan air, dan membangun perumahan sementara di prefektur yang dilanda gempa. Namun, sekitar 21.880 rumah dan tempat usaha, terutama di wilayah Noto, masih belum dialiri air.
Tantangan terbesar adalah upaya untuk terus memberikan bantuan kepada para pengungsi. Pada Minggu (25/02/2024), sekelompok mahasiswa sukarelawan mengunjungi tempat pengungsian di Kota Suzu.
Baca juga : Perusahaan Makanan Laut Jepang Berupaya Perluas Ekspor Kerang Simping
Mereka menyiapkan tempat bilas untuk kaki bagi para pengungsi dan menghabiskan waktu bersama mereka. Seorang pengungsi mengatakan kunjungan para mahasiswa tersebut membuatnya bahagia dan memberi semangat.
Namun, beberapa tempat pengungsian kurang mendapatkan bantuan. Sebuah tempat pengungsian di Kota Wajima menyiapkan makan siang dan malam untuk 140 pengungsi tiap hari.
Tempat pengungsian ini mengandalkan bantuan dari restoran dan organisasi di Ishikawa dan daerah lainnya. Salah satu warga mengungkapkan rasa terima kasihnya dan mengatakan bahwa makanan hangat itu menghangatkan hati.
Namun, tempat pengungsian tersebut menerima lebih sedikit tawaran bantuan mulai bulan depan dan seterusnya. Masyarakat yang terkena dampak gempa harus menanggung beban yang lebih besar sendiri.
Mulai Jumat (01/03/2024), Kota Wajima hanya akan mengirimkan pasokan bantuan ke tempat pengungsian yang telah ditentukan, karena jumlah staf yang mengawasi operasional tempat tersebut diperkirakan akan berkurang.
Dikutip dari NHK WORLD JAPAN
