NIINDO – Festival “pria telanjang” Jepang yang menarik ratusan peserta dan ribuan wisatawan setiap tahunnya, tidak akan lagi diadakan. Ini disebabkan krisis populasi di Jepang, yang menyebabkan penyelenggaraan festival berusia ribuan tahun itu menjadi beban berat bagi warga lokal yang semakin menua.
Baca juga : Menhan Bertemu dengan Para Pemimpin Okinawa tentang Relokasi Pangkalan AS
Ritual tahunan, yang menampilkan ratusan pria telanjang berebut sekantong jimat kayu, sambil menyanyikan “jasso, joyasa” (yang berarti “kejahatan, lenyaplah”) di hutan dekat Kuil Kokuseki, wilayah Iwate, Jepang utara itu tidak akan lagi diselenggarakan.
Penyelenggaraan acara tersebut, yang menarik ratusan peserta dan ribuan wisatawan setiap tahunnya, telah menjadi beban berat bagi penduduk lanjut usia setempat, yang merasa kesulitan untuk mengikuti ketatnya ritual tersebut.
Toshiaki Kikuchi, seorang warga setempat yang mengaku memiliki jimat tersebut dan membantu menyelenggarakan festival tersebut selama bertahun-tahun, mengatakan dia berharap ritual tersebut akan kembali terjadi di masa depan.
Baca juga :Sandaran Buku Buatan Jepang Berusia 400 Tahun Ditemukan di Portugal
“Meski dalam format berbeda, saya berharap tradisi ini tetap dipertahankan,” ujarnya usai festival, sebagaimana dilansir AFP.
“Ada banyak hal yang dapat Anda hargai hanya jika Anda ambil bagian.”
Banyak peserta dan pengunjung menyuarakan kesedihan dan pengertian atas berakhirnya festival.
“Ini adalah festival besar terakhir yang telah berlangsung selama 1.000 tahun. Saya sangat ingin berpartisipasi dalam festival ini,” kata Yasuo Nishimura, (49), seorang pengasuh dari Osaka, kepada AFP.
Kuil-kuil lain di Jepang terus menjadi tuan rumah festival serupa di mana para pria mengenakan cawat dan mandi di air dingin atau berebut jimat.
Beberapa festival menyesuaikan peraturannya sejalan dengan perubahan demokrasi dan norma sosial agar festival tersebut dapat terus eksis — seperti mengizinkan perempuan mengambil bagian dalam upacara yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi laki-laki.
Baca juga :RI Bisa Untung Saat Jepang hingga Inggris Resesi, Kok Bisa?
Mulai tahun depan, Kuil Kokuseki akan menggantikan festival tersebut dengan upacara doa dan cara lain untuk melanjutkan praktik spiritualnya.
“Jepang sedang menghadapi penurunan angka kelahiran, populasi menua, dan kurangnya generasi muda untuk melanjutkan berbagai hal,” kata Nishimura.
“Mungkin sulit untuk melanjutkan hal yang sama seperti di masa lalu.”
Dikutip dari OKEZONE.COM
