NIINDO – NHK memeriksa serangkaian permintaan penyelamatan palsu yang diposting di platform media sosial X, dahulu Twitter, setelah gempa besar yang melanda Jepang tengah pada Hari Tahun Baru. Analisis menemukan bahwa banyak permintaan, yang berbahasa Jepang, dikirim dari luar negeri.
Banyak permintaan penyelamatan muncul dari Prefektur Ishikawa yang terdampak parah setelah gempa tersebut, tetapi beberapa di antaranya berisi alamat yang tidak ada atau disertai dengan foto yang tidak terkait.
NHK menganalisis 24 akun yang memposting permintaan bantuan dari alamat yang sama di Kota Suzu yang terdampak parah, bersama dengan video dari lokasi yang tidak terkait. Dua belas dari akun tersebut terlacak ke Pakistan dan setidaknya sembilan akun biasanya memposting dalam bahasa Arab atau Urdu, yaitu bahasa nasional Pakistan.
Baca juga : Penyintas Gempa Wajima Mulai Pindah ke Perumahan Sementara
Akun-akun ini telah memposting tentang Jepang hampir 3.000 kali sejak bulan Oktober. Sekitar 160 postingan ini terkait dengan gempa dan telah ditayangkan lebih dari 11 juta kali. Terdapat juga sekitar 70 postingan mengenai tabrakan di landasan pacu pada tanggal 2 Januari di Bandara Haneda Tokyo, yang telah dilihat total lebih dari 2,5 juta kali.
Salah satu pengguna yang membuat permintaan penyelamatan palsu juga memposting video YouTube tentang cara mendapat penghasilan dengan menjangkau jumlah pemirsa tertentu di X, sementara pengguna lainnya melaporkan menghasilkan uang dari postingan X.
Beberapa postingan sepertinya menargetkan penghasilan dengan mereplikasi konten yang banyak beredar di Jepang melalui X.
Profesor Universitas JF Oberlin, Taira Kazuhiro, seorang pakar informasi palsu, mengatakan bahwa tindakan yang mencemari ruang informasi selama keadaan darurat atau pemilu demi keuntungan berisiko mengganggu stabilitas masyarakat. Ia mengatakan perlu tindakan penanggulangan yang komprehensif.
Baca juga : Pakar: Aktivitas Seismik Meningkat di Noto setelah Gempa
Pakistan diyakini sebagai salah satu negara yang banyak mengunggah informasi palsu. Negara itu sedang menghadapi situasi ekonomi yang parah, yang ditandai dengan tingginya inflasi.
Pakistan dilanda banjir dahsyat pada tahun 2022, yang dilaporkan menggenangi sekitar sepertiga daratan. Industri-industri besar, termasuk pertanian, terkena dampak paling parah.
Indeks harga konsumen di negara tersebut pada bulan Januari naik 28,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan jumlah pengangguran tahun lalu bertambah 1,5 juta dibandingkan tahun 2021.
Seorang pakar penggunaan media sosial di Pakistan mengatakan makin banyak orang yang beralih ke media sosial sebagai sarana untuk mendapatkan uang.
Baca juga : Kondisi Korban Selamat Satu Bulan setelah Gempa di Jepang Tengah
Seorang insinyur sipil berusia 26 tahun mengatakan ia telah memposting video yang menarik perhatian selama berbulan-bulan demi memperoleh pendapatan. Ia mengatakan banyak orang menggunakan media sosial sebagai cara mendapatkan uang di tengah ekonomi yang sulit dan kenaikan tajam harga bensin. Ia percaya ini adalah cara untuk menambah penghasilannya dari pekerjaan.
Pakar tersebut mengatakan bahwa tren ini sedang meningkat terutama di kalangan generasi muda yang bergulat dengan kelangkaan lapangan kerja, dan menyatakan bahwa beberapa di antara mereka menggunakan informasi dan bahasa asing untuk meningkatkan pemirsa.
Dikutip dari NHK WORLD JAPAN

Pingback: Studi Ungkap Penyebab 2 dari 3 Pasutri Jepang Tak Berhubungan Seks - Niindo
Pingback: Warga RI Ramai-Ramai Pindah Kerja ke Jepang, Ini Alasannya - Niindo