NIINDO – Pemerintah pusat dan daerah di Jepang meningkatkan dukungan bagi orang-orang yang menderita dampak jangka panjang dari virus korona, yang dikenal sebagai long COVID.
Jepang menurunkan kategori virus tersebut enam bulan lalu ke Level Lima, kategori yang sama dengan influenza musiman.
Meskipun jumlah pasiennya menurun, banyak yang melaporkan gejala terus-menerus yang mencakup kelelahan, ketidakmampuan berkonsentrasi, rambut rontok, serta gangguan indra penciuman dan perasa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kondisi pasca-COVID-19 atau long COVID sebagai gejala yang berlangsung lebih dari dua bulan yang tidak dapat dijelaskan dengan diagnosis alternatif.
BACA JUGA : Peneliti Jepang Temukan Penyebab Tanda-Tanda Pollinosis pada Mata Cepat Muncul
Sebuah panel pemerintah melaporkan pada September bahwa di tiga kota di Jepang yang disurvei, antara 10 hingga lebih dari 20 persen orang dewasa yang terinfeksi virus korona mengatakan gejala mereka berlanjut selama lebih dari dua bulan.
Long COVID dapat membuat orang tidak dapat pergi bekerja atau ke sekolah serta berdampak serius pada kehidupan sehari-hari.
Kementerian Kesehatan menawarkan pembayaran tambahan untuk layanan kesehatan hingga Maret kepada institusi medis yang merawat orang yang menderita kondisi tersebut.
Pemerintah daerah telah mencantumkan fasilitas semacam itu di situs web miliknya. Sekitar 9.000 fasilitas di seluruh Jepang menerima pasien terhitung hingga akhir Oktober.
Para pejabat kementerian mengatakan banyak orang tidak memiliki kesadaran yang cukup sehingga kementerian akan mencoba memberikan akses kepada para penderita untuk mendapatkan perawatan yang tepat sambil mempelajari sejauh mana masalahnya.
Dikutip dari NHK NEWS
