NIINDO.COM – Meskipun Biasanya orang jepang sangat siap menghadapi Gempa karna merupakan Bagian dari hidup mereka tidak demikian dengan gempa yang disusul tsunami pada Jumat 11 Maret 2011.
Gempa kekuatan 8,9 skala liter, yang kemudian an diralat oleh badan otoritas Jepang menjadi di 9 pada skala Richter, terjadi pada pukul 14. 46 waktu Jepang.
ketika itu saya dalam perjalanan pulang sehabis shalat jumat dan berbelanja makanan untuk keperluan keluarga di sekitar universitas gakushuin , tempat saya mengajar dan melakukan penelitian selama ini .
Saya yang sudah ah agak terbiasa dengan kecil, karena setiap saat terjadi di pada awalnya tidak terlalu khawatir. Namun gempa yang awalnya nya perlahan itu semakin membesar dan begitu lama, sehingga saya dan para penumpang yang berada di Underground stasiun kereta teramai di kawasan Shinjuku itupun memaksakan diri dari keluar.
dari kereta yang sudah mau berangkat titik guncangan semakin Dahsyat sirine meruang ruang para penumpang semua keluar dari kereta. Kereta saling beradu dengan platform, begitupun dengan atap Underground, sehingga menimbulkan bunyi yang sangat ramai dan menakutkan kan. Saya pun mengira hanya berdoa itu hari terakhir saya.
Guncangan yang dahsyat itu benar-benar membuat panik. Membayangkan besarnya gempa sementara Tokyo dan sekitarnya penuh gedung pencakar langit apalagi dalam batin saya kalau supaya oksigen di Underground nanti terputus? Apa yang terjadi? Ternyata,
Gempa terjadi berpuluh bahkan ratusan kali dengan frekuensi semakin lama semakin kecil (bahkan ketika tulisan ini dibuat pun Selasa 14 Maret 2011 terjadi guncangan guncangan cukup besar meskipun sebentar saja) saya akhirnya terjebak kurang lebih 10 jam bersama ribuan orang lainnya Dan berjam-jam pula tidak bisa kontak dengan istri di rumah dan anak-anak yang sedang sekolah saat itu.
Manusia Jepang
Gempa yang terjadi pada 11 Maret 2010 itu memang di luar perkiraan masyarakat Jepang bahkan ada ahli gempa di Jepang yang mengatakan bahwa gempa seperti itu hanya terjadi setiap 1000 tahun. Dan bahwa akan ada gempa besar di Jepang termasuk wilayah Tokyo masyarakat Jepang sudah memperkirakan meskipun ternyata kedahsyatannya di luar dugaan titik Sebab mereka Percaya adanya siklus gempa 100 tahunan karena pada 1923 terjadi gempa yang menewaskan 114000 orang yang dikenal dengan sebutan Green Kanto.
yang ketika itu orang-orang sedang makan siang. Karena itu mereka yang percaya pada siklus gempa tersebut menghadiri untuk tinggal di daerah sekitar kantor termasuk Tokyo. Bagaimana manusia Jepang menghadapi bencana?
Yang menarik dari masyarakat dan manusia Jepang adalah kesiapan mereka dalam menghadapi bencana seperti gempa dan tsunami bahkan ahli gempa dan banyak ahli gempa Indonesia alumnus Jepang titik namun sebagian seorang Awam saya mencatat beberapa hal pertama
sikap mentalnya dalam diri mereka dari bayi sudah ditanamkan sifat untuk sensitif termasuk sensitif terhadap gempa masyarakat Jepang di komplek komplek perumahan misalnya secara rutin tanpa kecuali termasuk perdana menterinya ikut pelatihan menghadapi gempa titik di sekolah sekolah pun pelatihan semacam ini diadakan secara rutin. Secara perlahan latihan sudah dipersiapkan seperti helm masker center dan lain-lain
dilatih Bagaimana misalnya hanya menyelamatkan bagian kepala terlebih dahulu dengan menyembunyikan bagian kepala di bawah meja saat gempa tidak memakai elevator keluar dari pintu darurat persediaan makanan kering kecil di bawah meja kalau terjebak obat-obatan dan seterusnya
kedua ,kontruksi anti gempa sebagai besar bangun jepang anti gempa, Sehingga kebijakan pemerintah dalam soal tata ruang bangunan dan semacam disesuaikan dengan kondisi yang rawan gempa. Mereka adalah masyarakat yang mau belajar dari pengalaman masa lalu semua kejadian mereka catat mereka dokumentasikan Gempa yang terjadi di Kobe pada 1995 , yang menewaskan sekitar 5000 jiwa
misalnya menginspirasi untuk mereka membangun earthquake museum di kawasan nada di Kobe, yang kebetulan beberapa kali saya sempat berkunjung di Museum tersebut hampir semua Kejadian gempa di seluruh dunia termasuk gempa Aceh 26 desember 2004 terdapat dokumentasinya tujuannya tidak lain untuk meningkatkan dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar siap siaga , setiap saat menghadapi bencana gempa.
Ketiga, masyarakat terorganisasi masyarakat Jepang sangat terorganisasi mereka bahu-membahu untuk menolong menyediakan obat-obatan makanan peralatan musim dingin dan semacamnya dengan sangat Sigap. Walaupun sudah dilanda gempa dan tsunami besar mereka tetap tertib. Tidak ada yang ingin mencela hak orang lain termasuk dalam antrean di manapun, di supermarket stasiun kereta Bang dan lain-lain.
Singkat kata sabu di Jepang untuk hanya menonjol sendiri Makanya seiring kita lihat orang-orang Jepang berpergian secara bersamaan dan 1 orang membawa Bendera sebagai penanda demikian juga ketika terjadi gempa dan tsunami.
Keempat pemerintah satu komando meskipun belakangan pemerintah perdana menteri Naoto kan didera berbagai persoalan politik misalnya membelot nya nya 16 politikus pendukung Ozawa dan mundurnya Menlu maehara karena menerima uang ilegal dalam jumlah kecil dalam soal bencana mereka satu komando pemerintah punya wibawa suara pemerintah didengar dengan sesama malahan menghadapi bencana yang sangat besar ini bahkan dikatakan sebagai bencana terbesar setelah PD II-PM Naoto kan diminta mengalokasikan anggaran negara lebih besar lagi termasuk oleh opsi politiknya.
[21:22, 3/10/2021] Tedi Ahmadi: Para petugas yang berkomitmen memberi penjelasan yang disiarkan melalui semua seluruh media selama gempa umpamanya beberapa hari tidak ada satu media televisi pun yang menayangkan iklan semuanya berkonsentrasi pada penyebaran informasi serta upaya penanggulangan gempa. Semua Media memiliki rasa solidaritas yang tinggi dan tidak takut rugi karena tidak menayangkan iklan setiap saat siap memberi informasi saat akan yang terjadi gempa melalui semua saluran seluler sehingga masyarakat tahu lebih dini .
Suplai makanan dari satu daerah ke daerah lainnya diatur penggunaan dan pemadaman listrik serta gas secara bergiliran diumumkan sejak dini secara nasional Semua dalam penangkapan solidaritas mereka yakini kebersamaan meskipun saat ini mereka sedang menghadapi atau mengantisipasi atau dampak pasca bencana yang mengkhawatirkan seperti kemungkinan terjadi radiasi nuklir Karena bocornya PLTN di daerah fukushima. Atau penyakit-penyakit susulan lainnya yang diakibatkan dari banyak korban jiwa.
Dari semua yang terpapar diatas intinya masyarakat masyarakat Jepang memiliki bangunan solidaritas yang kuat saling saling dalam mengartikan Pengertian positif bukan saling negatif seperti saling tidak peduli saling tuduh saling balas saling menjatuhkan saling fitnah saling sandera saling merasa paling benar paling suci paling berjasa dan seterusnya Bisakah kita bayangkan kalau gempa dengan kekuatan 9 pada skala liter terjadi di Jakarta apa yang terjadi sudah siapkah ? Adakah Solidaritas? Masihkah ada penghargaan hak-hak orang lain? Kita sudah mengalami gempa dan tsunami di luar biasa di Aceh namun kenyataannya kita juga belum banyak mengambil hikmah dan pelajaran padahal Betapa mudahnya bagi yang maha kuasa untuk mengubah dan menentukan keadaan dengan sekejap.
