Di era teknologi seperti saat ini yang terus saja berkembang, banyak pilihan dan jenis pekerjaan yang bisa dipilih. Para pencari kerja sekarang tidak hanya bisa memilih profesi kantoran, melainkan juga bisa memilih untuk bekerja di perusahaan rintisan atau start up.
Fenomena inilah yang kini banyak terjadi di Jepang. Para pencari kerja di Jepang kini mulai banyak yang memilih untuk bekerja di Start-up. Bahkan tidak jarang pula ada yang justru memilih untuk membuka bisnis sendiri.
Dilansir dari CNBC, Kepala dari Perusahaan 500 Startups di Jepang James Riney mengatakan jika para pencari kerja di Negeri Sakura saat ini melihat lowongan kerja di start-up sebagai pilihan B. Padahal sebelumnya, kebanyakan pekerja di Jepang lebih memilih bekerja di perusahaan bonafit demi memiliki stabilitas hidup yang lebih baik.
“Jika pekerja di sini tidak masuk ke perusahaan besar, maka masuk ke perusahaan start-up atau membuat bisnis sendiri merupakan satu hal pilihan yang bisa dipertimbangkan,” ujar Riney.
Lebih lanjut, jumlah pekerja Jepang yang memilih untuk bekerja di start-up juga didominasi oleh para angkatan muda. Hal ini tak jarang membuat perusahaan besar kesulitan untuk mendapat angkatan kerja muda yang sesuai dengan kriteria.
Kesuksesan beberapa perusahaan start-up teknologi Jepang seperti Mercari, Rakuten, DeNa, GREE juga sangat berkontribusi pada banyaknya anak muda disana yang memilih beralih untuk bekerja di perusahaan rintisan. Ada beberapa diantara pekerja yang sengaja masuk ke perusahaan rintisan Jepang demi mendapat ilmu kewirausahaan dari pemilik start-up tersebut.
