NIINDO.com – Orang-orang Jepang sangat menghargai etika dan kesopan-santunan dalam berbudaya. Meski demikian, orang-orang Jepang memiliki mental juara dan unggul di berbagai bidang, sehingga banyak warga negara lain yang ingin mencontohnya.
Seperti di bidang IT, para medis kedokteran, sains, ekonomi, produksi, seni, atau keahlian serta pengetahuan umum lain, orang-orang Jepang sangat menguasai.
Dikutip dari www.akibanation.com, dalam kemajuan budaya dan teknologi serta inovasi yang pesat pula, di Jepang terdapat kebiasaan – kebiasaan baik dan tentu menjadi contoh banyak tokoh hebat di Dunia.
Sebagai contoh, rata-rata di Jepang bekerja 2.450 jam per tahun, sangat tinggi dibandingkan Jerman yang hanya 1.870 jam pertahun. Keberhasilan Jepang dalam membangun ekonomi setelah kalah perang juga banyak dicatat.
Lantas, apa yang menjadi rahasia bagi kesuksesan orang Jepang yang bisa dicontoh?
1. Membaca
Sejarah mencatat bahwa di Jepang sudah terdapat buku-buku asing pada tahun 1684 dan dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sepanjang jaman.
Tak heran bila Jepang merupakan bangsa yang cerdik dan pintar, pasalnya saat anda memasuki kereta api atau tempat duduk bus terdapat anak-anak sedang membaca komik, orang tua membaca koran, ibu-ibu membaca tabloid, hampir semua membaca.
Di Jepang, membaca merupakan alat yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup di Jepang. Sehingga mereka tampak rajin untuk membaca.
2. Inovasi dan Perancangan Baru
Jepang menjadi tempat yang terbuka bagi inovasi. Jepang memang bukan bangsa penemu, namun mereka mampu meracik atau merakit sehingga memiliki nilai tambah.
Seperti yang dilakukan Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang merupakan contoh bangsa Jepang yang berhasil menciptakan inovasi pada produk radio kecil.
Memang, paten dari Sony sendiri adalah milik perusahaan Phillip Elektronics, namun keberhasilan mengembangkan dan membuilding kembali model portabel sebagai produk yang booming Akio Morita tercatat sebagai inovator yang melegenda.
3. Menerapkan Hidup Hemat
Di Jepang terdapat budaya yang dinamakan anti konsumsi, yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Jepang. Ini terbukti bahwa di Jepang toko akan memotong harga hingga 50% dari harga asli 30 menit sebelum menutup toko.
Tak heran kenapa banyak orang yang berbondong-bondong masuk ke supermarket atau toko yang memberikan diskon sebanyak itu pada pukul 19:30. Rata-rata di Jepang supermartket dan toko tutup hingga pukul 20:00.
4. Setia Terhadap Pekerjaan
Di Jepang seseorang yang bekerja terhadap perusahaan akan memberikan loyalitasnya atau kesetiaannya terhadap perusahaan yang digelutinya.
Sangat jarang orang Jepang untuk berpindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan hanya 1 atau 2 perusahaan hingga pensiun. Kesetiaan dalam pekerjaan ini sudah menjamur di Jepang, ini disebabkan karena masyarakat Jepang tidak suka terhadap perubahan pekerjaan. Namun mereka bisa memberi warna pada pekerjaan yang dilakoninya
5. Budaya Malu Terhadap Apa yang Dilakukan
Di Jepang sendiri memiliki leluhur dimana Masyarakat akan bunuh diri bila melakukan kesalahan seperti korupsi dan sebagainya.
Malu merupakan budaya yang paling ditakuti di Jepang. Sebab salah sedikit saja maka akan bunuh diri.
6. Pantang Menyerah dan Tak Kenal Lelah
Sejarah Jepang membutkikan bahwa masyarakat merupakan bangsa yang tahan banting, pantang menyerah serta tidak ingin negaranya menjadi kosong hanya karena ingin pergi ke luar negeri. Sehingga bangsa Jepang termasuk bangsa yang cepat beradaptasi dengan lingkungan, sehingga mereka mudah sekali untuk mengembangkan pekerjaan yang dilakukan.
Bangsa Jepang juga tak mengenal lelah, ini disebabkan karena di Jepang sendiri tidak memiliki kekayaan seperti yang dimiliki negara lain, seperti minyak bumi, bijih besi, kayu, batubara, dan di Jepang hampir 85% energi berasal dari negara lain termasuk di Indonesia
7. Kerja Keras Sangat Diutamakan
Budaya kerja keras sendiri dilakukan dijepang. Rata-rata hampir 2450 jam per tahun sangat tinggi dibandingkan di Amerika hanya 1957 jam per tahun, Inggris 1911 jam per tahun, jerman 1870 jam per tahun dan di Perancis hanya 1680 jam per tahun. (Arini Hidayat)
