Beranda » Perawat Indonesia Terkendala Bahasa di Jepang

Perawat Indonesia Terkendala Bahasa di Jepang

  • oleh

Ekonom CORE Mohammad Faisal menilai hambatan bahasa masih saja menjadi salah satu sumber kendala utama bagi perawat dan pekerja medis dari Indonesia untuk memenuhi permintaan kebutuhan tenaga kerja di Jepang.

“Penguasaan bahasa ini menjadi penting mengingat pekerjaan perawat dan pekerja medis sarat dengan komunikasi dengan pasien”, ujar Faisal.

Ia menilai bahwa kebutuhan tenaga kerja Jepang terhadap perawat dan tenaga medis asal Indonesia sangat tinggi. Namun sayangnya, kompetensi riil yang dimiliki oleh perawat Indonesia masih saja tidak sesuai dengan standar di Jepang.

“Peningkatan kemampuan bahasa ini perlu dikejar dengan durasi pelatihan yang lebih panjang”,tambahnya.

Menurutnya, untuk dapat mengejar ketertinggalan kemampuan bahasa adalah dengan memberikan durasi pelatihan yang lebih panjang.

Seperti yang diketahui bahwa kebutuhan perawat dan tenaga kerja medis menjadi salah satu fokus kerjasama Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) sejak tahun 2008. Pada perjanjian tersebut memiliki sifat yang lebih komprehensif yang memungkinkan adanya pelatihan lanjutan untuk saling mengembangka sumber daya antara dua negara.

Adapun tanggapan menganai hal tersebut, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid mengatakan, permintaan perawat asal Indonesia belum semuanya terpenuhi. Hal ini dikarenakan tiap tahun ada permintaan sekitar 16.000 perawat, namun Indonesia pada tahun 2016 lalu hanya mampu mengirim 200 perawat saja.

Ia juga memaparkan beberapa hambatan untuk memenuhi permintaan tersebut diantaranya bahasa Inggris khusus istilah medis, kompetensi lisensi, dan sertifikat di Indonesia yang tidak diakui di luar negeri.

Nusron mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan fasilitas peningkatan keterampilan bagi perawat sesuai dengan tujuan pemerintah untuk menggenjot penempatan TKI formal di luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.