NIINDO – Kementerian Lingkungan Hidup Jepang melaporkan meningkatnya jumlah korban akibat serangan beruang di berbagai wilayah negara tersebut. Hingga akhir Oktober, tercatat 10 orang tewas sejak awal tahun fiskal yang dimulai pada bulan April, menjadikannya jumlah korban tertinggi yang pernah tercatat. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan masyarakat dan mendorong pemerintah untuk mengambil langkah pencegahan yang lebih ketat terhadap serangan satwa liar.
Insiden terbaru terjadi pada Jumat (24/10/2025) di sebuah desa di Prefektur Akita, ketika seorang pria berusia 38 tahun ditemukan tewas akibat diserang beruang. Peristiwa tragis ini menambah panjang daftar korban dalam beberapa bulan terakhir, terutama di wilayah utara Jepang yang dikenal memiliki populasi beruang cokelat cukup tinggi. Para pejabat setempat mengatakan bahwa aktivitas beruang meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan makanan di hutan menjelang musim dingin.
Menurut data yang dihimpun oleh NHK hingga Minggu (26/10/2025), sedikitnya 78 orang telah menjadi korban serangan beruang sepanjang bulan Oktober ini saja. Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya, yaitu 73 kasus pada Oktober 2023, yang saat itu dianggap sebagai bulan dengan jumlah serangan tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini menunjukkan bahwa interaksi antara manusia dan beruang semakin sering terjadi, terutama di daerah pemukiman yang berdekatan dengan hutan.
Ingin belajar bahasa jepang dengan fleksibel? Belajar di Mahagakkou aja
Pihak berwenang di berbagai prefektur telah memperingatkan warga untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan. Penduduk diminta menghindari berjalan sendirian di area pegunungan atau hutan, terutama pada pagi dan sore hari ketika beruang biasanya mencari makan. Pemerintah daerah juga mulai memasang tanda peringatan dan menggunakan pengeras suara untuk memperingatkan warga jika seekor beruang terdeteksi di area permukiman.
Secara geografis, Prefektur Akita mencatat jumlah korban tertinggi dengan 35 orang, diikuti oleh Iwate dengan 10 korban dan Fukushima dengan 8 korban. Para ahli memperkirakan bahwa meningkatnya populasi beruang serta perubahan pola cuaca yang memengaruhi ketersediaan makanan alami menjadi faktor utama meningkatnya serangan terhadap manusia. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pengelolaan satwa liar yang lebih baik agar keseimbangan antara manusia dan alam tetap terjaga.
Pemerintah pusat Jepang kini tengah mempertimbangkan langkah-langkah baru untuk mengatasi situasi ini, termasuk peningkatan patroli satwa liar dan kerja sama dengan komunitas lokal dalam program mitigasi konflik antara manusia dan beruang. Meski perlindungan terhadap beruang tetap menjadi bagian dari kebijakan konservasi, keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan beruang di sekitar tempat tinggal mereka.
Dikutip dari: NHK NEWS
