NIINDO – Pembuangan air olahan dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi ke laut telah berlangsung selama dua tahun, tepat Minggu (24/08/2025). PLTN ini rusak parah akibat gempa dan tsunami besar pada 2011, yang menyebabkan tiga reaktornya meleleh dan menghasilkan sekitar 880 ton puing bahan bakar cair bercampur komponen struktural.
Air yang digunakan untuk mendinginkan bahan bakar meleleh bercampur dengan air hujan dan air tanah. TEPCO, sebagai operator PLTN, mengolah air tersebut untuk menghilangkan sebagian besar zat radioaktif, meski masih mengandung tritium. Sebelum dilepas ke laut, air diencerkan hingga hanya sekitar 1/7 dari ambang batas panduan WHO untuk air minum.
Sejak dimulai pada 24 Agustus 2023, TEPCO telah melepaskan 101.000 ton air ke laut dalam 13 putaran. Putaran ke-14 dijadwalkan selesai pada Senin (25/08/2025). Pemantauan sejauh ini menunjukkan kadar tertinggi tritium hanya 61 becquerel per liter, jauh di bawah batas WHO sebesar 10.000 becquerel per liter.
Baca juga : Jepang Dilanda Gelombang Panas, Suhu Hampir Tembus 40 Derajat
Saat ini, lebih dari 1,27 juta ton air olahan masih disimpan di lebih dari 1.000 tangki di kawasan PLTN. TEPCO berencana melepas sekitar 400.000 ton air hingga tahun fiskal 2030 agar lahan tangki dapat digunakan untuk membangun fasilitas pembuangan puing bahan bakar.
Namun, proses ini diperkirakan panjang. Aliran air tanah dan penggunaan air pendingin masih menambah sekitar 70 ton air terkontaminasi per hari, sehingga TEPCO menargetkan penyelesaian penuh baru pada tahun 2051.
Dikutip dari NHK NEWS
