NIINDO.COM – Lebih dari 70 persen orang di Jepang sudah menerima vaksinasi virus korona, tingkatnya merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Namun, data statistik ini mengabaikan fakta bahwa satu komunitas sangat tertinggal. NHK berbicara dengan beberapa warga asing yang mengatakan bahwa selama beberapa bulan, kendala bahasa menghambat mereka bahkan untuk mendapatkan dosis pertama.
Bulan lalu, Luan Yong Jie pergi ke rumah sakit di pusat Tokyo untuk menerima vaksin virus korona dosis pertama. Bagi pria berusia 35 tahun yang berasal dari Cina ini, reservasi itu mengakhiri beberapa bulan yang dipenuhi kegelisahan. Ia mengatakan ingin menerima vaksinasi segera setelah tersedia tetapi tidak mendapatkannya, karena satu alasan. “Bahasa Jepang saya tidak bagus,” katanya. “Itulah mengapa saya belum divaksinasi.”
Dilansir dari nhk, Menurut Badan Layanan Imigrasi Jepang, banyak warga asing yang masih belum divaksinasi. Sebagian di antaranya, seperti Luan, ingin divaksinasi tetapi belum mendapatkannya karena kendala bahasa.
Proses untuk mendapatkan vaksin di Jepang relatif mudah. Penduduk yang memenuhi syarat menerima kupon dari pemerintah kotanya yang memungkinkan mereka untuk melakukan reservasi di klinik atau rumah sakit. Namun, kupon-kupon ini semuanya dalam bahasa Jepang dan berisi istilah teknis yang bisa jadi sulit dimengerti bahkan bagi penutur aslinya.
Sejumlah penduduk asing mengatakan mereka hampir membuang kupon karena tidak memahami fungsinya. Bahkan mereka yang mengerti bahasa Jepang juga mengalami kesulitan, dengan mengatakan bahwa mereka tidak yakin apakah memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksinasi atau tidak.
Hoang Thanh Lam, mahasiswa Vietnam, pergi ke rumah sakit yang sama di Tokyo untuk mendapatkan dosis pertama vaksin. Ia mengatakan selama beberapa bulan, dirinya tidak berpikir memenuhi syarat menerima vaksinasi dengan visa tinggal untuk jangka pendek yang dimilikinya.
Baik Luan dan Lam akhirnya dapat melakukan reservasi, tetapi hanya setelah pemerintah Jepang mulai menyediakan layanan bantuan telepon multibahasa pada bulan lalu. Layanan itu tersedia dalam 18 bahasa dan dapat digunakan untuk melakukan pendaftaran di Tokyo, Osaka, dan Nagoya.
Sejumlah rumah sakit dan klinik juga menjadi lebih ramah bagi penduduk asing. Sebelum memberikan suntikan, dokter bertanya kepada Luan dan Lam mengenai kondisi kesehatannya. Seorang interpreter menerjemahkan pertanyaan dengan menggunakan tablet.
Laura Cecilia dari Paraguay juga di sana untuk menerima vaksin dosis pertamanya. Sebelumnya, ia telah mendaftar satu bulan lebih awal tetapi terpaksa membatalkannya karena terinfeksi virus korona di pabrik pemrosesan makanan tempatnya bekerja.
Setelah menerima suntikan, ia tampak lega.
“Saya senang menerima vaksinasi, sekarang saya dapat melindungi diri saya.”
Tanaka Nobuko, wakil direktur divisi dukungan penduduk di Badan Layanan Imigrasi, mengatakan dirinya terkejut ketika mengetahui banyaknya orang yang belum divaksinasi karena kendala bahasa.
“Masih ada keterlambatan dalam penyediakan informasi multibahasa dan kami berupaya agar lebih banyak tersedia secepatnya,” katanya.
Peningkatan dukungan akan berarti berakhirnya penantian yang lama dan menggelisahkan bagi sejumlah orang dan memastikan tingkat vaksinasi secara nasional akan terus meningkat, sehingga memasukkan Jepang dengan pasti ke dalam jalan menuju dunia pascapandemi.

Pingback: Mulai tahun 2022 Jepang akan mengakhiri komunikasi 3G Terutama Ponsel Garake - Niindo
Pingback: Jepang Terima Pendaftaran Vaksin Penguat Di Tempat Kerja - Niindo
Pingback: Jepang & AS Akan Gelar Pertemuan 2 Plus 2 Pada Januari - Niindo
Pingback: Terjadi Kebakaran Gedung Di Osaka Diduga Disengaja - Niindo