NIINDO.COM – Kimono, pakaian tradisional Jepang memang sangat cantik dan bikin kita ingin mencoba memakainya saat mengunjungi Jepang nanti. Tapi, apakah kamu tahu tentang sejarah dan makna budaya di balik pakaian elegan ini? Atau apa bedanya kimono dengan yukata? Nah, dalam artikel yang dikutip dari japanesestation.com akan memaparkan tentang apa itu kimono dan yukata, sejarah dan perbedannya, serta keadaan kimono di zaman modern ini.
baca juga : Kecanduan Game di Jepang Naik, Jepang Adakan Sistem Konsultan Bagi Gamers
Apa sih Kimono itu?
Kimono adalah pakaian nasional Jepang yang bisa menunjukkan umur pemakai, gender, bahkan status pernikahan sang pemakai ketika dikenakan. Cara mengetahuinya, bisa dilihat dari dekorasi, aksesori, dan bagaimana cara kimono dipakai.

sumber : google.com
Secara literal, kimono bisa diartikan “sesuatu untuk dipakai,” menunjukkan kalau kimono adalah pakaian sehari-hari orang Jepang pada zaman dulu. Kimono juga membuat kita mengerti bagaimana sih perkembangan budaya Jepang dari masa ke masa. Kini, kimono dianggap sebagai identitas Jepang lho.
baca juga : Ibunda Hana Kimura Melayangkan Komplain Atas Kematian Putrinya
Sejarah singkat Kimono
Awalnya, prototype kimono dibawa ke Jepang dari Cina pada zaman Kofun (300-538 AD). Nah, pada zaman Heian (794-1185) kimono mulai beragam, seperti kimono berlapis untuk wanita, dan perbedaan warna yang menunjukkan status pada pria (semakin gelap warna, semakin tinggi statusnya).
Memasuki zaman Edo (1603-1868), lengan kimono mulai memanjang, dan “obi” (ikat pinggang) mulai dikembangkan. Dari sini, bentuk dasar kimono tidak berubah. Di zaman Edo juga mulai berkembang kimono sutra “shibori” (tie-dyeing) dan “shishu” (sulam) yang dikenakan oleh para pedangang kaya baru, dianggap ancaman bagi penduduk kelas atas, karena itu, pemerintah menetapkan aturan baru.Kimono sutra shibori dan shishu dilarang dikenakan oleh para pedagang, membuat munculnya yuzen” (resist dyeing), kimono dengan desain teknik pencelupan baru dengan desain yang lebih dinamis dan bisa digunakan siapa saja.
Pada zaman Meiji (1868-1912), orang yang berkerja di pemerintahan mulai mengenakan baju ala barat saat bekerja, meski mereka tetap menggunakan kimono sehari-harinya. Untuk para wanita, mereka tetap mengenakan kimono dengan aksesori ala barat, seperti sarung tangan, boots dan scarf.
Pada Zaman Taisho (1912-1926), ada revolusi baru, “Meisen” (jenis sutra tahan-celup yang lebih murah dan lebih kuat). Meisen memiliki karakteristik desain yang tegas dan cerah dan memiliki fungsi yang sama dengan jeans di negera barat.

sumber : google.com
Sayangnya pada Perang Dunia II, kimono dianggap tidak patriotik karena menggunakan kain yang banyak dan akhirnya disimpan atau ditukar dengan makanan. Wanita-wanita Jepang juga mulai memakaikan pakaian ala barat. Inilah yang membuat Jepang lebih sering mengenakan pakaian ala barat hingga kini!
baca juga : Masih Menjadi Perdebatan, Hukuman Mati di Jepang
Apa itu Yukata?
Secara literal, “Yukata” berarti “pakaian mandi,” meski kini tidak hanya digunakan sebagai pakaian mandi saja. Intinya, yukata merupakan pakaian tradisional yang biasanya dibuat dari katun, atau linen saat musim panas dan dapat digunakan oleh siapa saja.

sumber : google.com
Sejarah Singkat Yukata
Sebelum menjadi seperti sekarang, yukata merupakan kimono sutra satu lapis yang dikenakan saat mandi oleh para orang-orang kelas atas. Pada tahun 1800, para pendeta mulai melakukan upacara mandi untuk penyucian yang diikuti para samurai dan bangsawan. Namun, karena sutra tidak cocok untuk digunakan membasahi diri, orang-orang mulai menggunakan kain seperti katun atau linen. Akhirnya, “kimono” baru ini sampai ke para orang kelas menengah dan kelas bawah, bahkan beberapa pemandian umum di Tokyo. Orang-orang yang pergi ke pemandian umum dari rumahnya pun mulai ingin mengenakan yukata warna-warni, dan dari sinilah yukata modern lahir.

sumber : google.com
Yukata vs. Kimono: Apa Bedanya?
Kimono biasanya terbuat dari berbagai tipe sutra, sementara yukata terbuat dari katun atau polyester. Jadi, umumnya kimono lebih mewah dan formal, sementara yukata lebih murah, casual, dan lebih dingin karena digunakan saat musim panas.
Lengan pada kimono bisa bervariasi, tergantung dengan fator-faktor yang berbeda, misalnya umur dan keformalan suatu acara. Contohnya, furisode kimono yang lengannya super panjang dan lengan yukata yang pendek dan tidak pernah mencapai 50 cm.
baca juga : Stasiun kereta di Jepang ditanami anggur pada bagian peronnya.
Yukata lebih mudah digunakan karena tidak memiliki banyak aksesori seperti kimono. Selain itu, yukata juga dipasangkan dengan obi yang lebih casual dan lebih mudah dipakai, membuat gadis-gadis senang mengikatnya dengan cara mereka sendiri. Berbeda dengan yukata, kimono dipasangkan dengan obi formal atau semi formal, tergantung acara yang dihadiri. Selain itu, yukata juga digunakan bersama sebuah geta dan kaki telanjang, sementara kimono dipasangkan dengan zori dan tabi.
