Banyak Wanita dari Indonesia yang Bekerja di Jepang Kehilangan Pekerjaan Karena COVID-19

0
120
views
BURUH TERANCAM PHK. Sejumlah buruh pabrik tekstil tengah mengerjakan pakaian di PT. Sandang Asia Maju Abadi, Semarang, Rabu (8 Juli 2015). Krisis ekonomi dunia yang belum juga berakhir, jelang Lebaran buruh di Jawa Tengah terancam PHK. Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah mencatat, buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) selama 2015 sudah mencapai 1.091. KORAN SINDO/Budi Arista Romadhoni

NIINDO.COM – Seorang perempuan Indonesia yang berdomisili di Jepang merupakan salah satu dari ratusan orang asing yang bekerja menjadi pegawai kontrak di Jepang. Kini, ia dan teman-temannya menderita setelah kehilangan pekerjaannya akibat pandemi virus corona yang tak kunjung usai.

Ya, akibat wabah yang tak kunjung usai ini, pegawai tidak tetap yang dipecat dari perusahaan yang bisnisnya terdampak wabah virus corona pun meningkat. Mayoritas pekerja asing di Jepang memang merupakan pegawai kontrak, dan salah satunya adalah perempuan Indonesia di atas yang tinggal di Kota Ueda, Prefektur Nagano, bersama suami dan putrinya yang masih duduk di kelas 1 SMA.

Baca Juga : Gubernur Osaka Klaim Menemukan Obat Kumur Anti COVID-19

Perempuan Indonesia yang bekerja sebagai seorang dispatch worker di industri manufaktur itu mendapat notifikasi pemutusan kontraknya pada musim semi lalu. Atasannya mengatakan, “Kami akan mengakhiri kontrak Anda pada bulan Mei karena pekerjaan pun dibatasi. Kami mohon maaf sedalam-dalamnya.”

“Sesungguhnya aku ingin bekerja di tempat itu untuk waktu yang lebih lama lagi, namun aku rasa itu tidak mungkin karena perusahaan tersebut juga tidak memiliki pendapatan lebih. Aku sangat putus asa,” ujar perempuan itu mengenang detik-detik pemutusan kontraknya.

“Menurutku, penduduk asing akan lebih mudah dipecat dibanding orang berkewarganegaraan Jepang. Banyak kolegaku yang juga pegawai asing dipecat meski kami telah bekerja dengan sangat keras,” tambahnya.

Ia bertemu dengan suaminya yang berkebangsaan Jepang di Indonesia dan mulai pindah ke Ueda pada tahun 2002. Di rumah barunya itu, ia mempelajari bahasa Jepang secara otodidak dengan menonton televisi. Dia juga mulai bekerja untuk membantu pendapatan rumah tangga mereka di perusahaan yang kini memecatnya. Setelah dipecat secara mendadak. Ia pun merasa gelisah karena kehilangan gaji bulanannya yang berkisar sekitar 150.000 yen.

Dia berkomentar, “Kini, putriku mulai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan tentunya ada pengeluaran kebutuhan sehari-hari lain. Aku khawatir dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Aku merasa bahwa harga kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mahal di supermarket. Aku juga hanya bisa memakan daging sapi atau ayam karena aku seorang Muslim, namun kini aku hanya mampu membeli ayam. Aku juga masih memasak untuk makan siang, namun putriku berkata, ‘Ibu, aku bosan makan ayam terus,’”

Baca Juga : Lebih Dari 25% Pasien COVID-19 di Nara Kehilangan Indra Penciuman dan Indra Pengecap

Ia pun mencoba untuk berkunjung ke “Hello Work” sebuah biro pekerjaan publik milik pemerintah setempat, namun para staf mengatakan kalau situasi saat ini sedang sulit dan membuat jumlah lowongan kerja menurun. Meski hal itu membuat ia semakin khawatir, ia berusaha untuk tetap berpikir positif dan mengatakan pada dirinya sendiri, “Masih ada orang yang lebih tidak beruntung. Aku tetap harus maju dan berpikir positif. Berpikir negative hanya akan membuatku sakit.”

Sumber : Google.com

Dikutip dari japanesestation, pada Rabu (29/7) lalu, Nagano Labor Bureau melaporkan bahwa jumlah orang yang mengalami pemutusan kontrak kerja akibat pandemi di prefektur-prefektur Jepang telah mencapai 961 orang dari 76 bisnis yang ada. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat.

Menurut Asosiasi Pembangunan Masyarakat Multikultural, pada akhir September 2019, ada 4.108 penduduk asing di Kota Ueda, Prefektur Nagano. Dari total tersebut, setengahnya adalah penduduk asal Cina dan Brazil.

Baca Juga : Aum Shinrikyo, Sekte Kiamat Yang Mendalangi Serangan Teroris di Tokyo

“Virus corona benar-benar menjadi pukulan telak bagi para penduduk asing. Situasi ini sangat parah karena kini banyak orang bekerja serabutan untuk menutupi biaya hidup. Perusahan-perusahaan juga kehilangan kapasitas ekstra mereka pada bulan Juni dan pemutusan kontrak kerja terus berlanjut. Mereka yang berusaha untuk hidup normal di Jepang kini dipecat, terlepas baik tidaknya kemampuan mereka,” ujar asosiasi tersebut.

Menyikapi hal ini, pemeintah Kota Ueda yang menerima banyak aduan dari penduduk asing yang mengatakan mereka dipecat dari pekerjaan mereka atau tidak memiliki pekerjaan, memutuskan untuk membuka kelas bahasa Jepang gratis bagi penduduk asing yang ingin mencari pekerjaan. Dengan kemampuan bahasa Jepang yang mumpuni, diharapkan dapat memperluas cakupan pekerjaan bagi mereka.

“Ada banyak orang yang sibuk dan tidak memeiliki waktu untuk belajar bahasa jepang, ada juga yang tidak mempelajari bahasa Jepang karena tempat kerja mereka sebelumnya memiliki interpreter. Akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan di sini jika bisa berbahasa Jepang dengan baik,” ujar salah satu pejabat Kota Ueda.

Tokyo Medical Tour

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here