Bank Indonesia Dorong UMKM Jatim Tembus Pasar Ekspor Di Jepang

0
29
views

NIINDO.COM-Bisnis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menggelar “Business Matching Indonesia-Jepang Ekspor Produk Unggulan Jawa Timur”. Hal itu sejalan dengan program Bank Indonesia untuk mengurangi defisit transaksi berjalan melalui peningkatan ekspor,

Kegiatan yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak itu sendiri diikuti oleh 60 (enam puluh) UMKM Jawa Timur binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia se-Jawa Timur dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.

“Jika kita lihat, nilai impor Jepang adalah sekitar US$ 600 juta atau 5 kali lipat ekonomi Jawa Timur. Dengan melihat angka yang sangat besar ini, tentunya membuka peluang yang lebar untuk Jawa Timur menjadi mitra Jepang,” kata Emil Elestianto Dardak.

Dikatakan Emil, masih adanya persolan Quality Control (QC) dari Jepang yang tinggi masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh para eksportir. “Walau begitu, kita tidak boleh menyerah. Jangan sampai hanya diberi feedback negatif lalu kita mundur, Menurutnya, prinsipnya adalah ‘Ojo Wedi’ atau ‘jangan takut terhadap langkah ekspor’,” ucap Emil.

Selain QC, menurut Emil, permasalahan perizinan dan standarisasi produk, kemampuan Sumber Daya Manusia, kapasitas produksi serta minimnya saluran pemasaran juga dihadapi oleh sejumlah UMKM yang mencoba masuk ke pasar Jepang.

Oleh karena itu, ungkap Emil, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh Bank Indonesia. “Saya melihat dari UMKM yang hadir, sebagian diantaranya telah ready to export, sebagian yang lain telah memiliki potensi untuk ekspor. Hal ini harus terus didorong, apalagi ada dukungan dari BI yang  telah berhasil membina pelaku industri kopi di beberapa titik di Jatim. Banyak yang sudah menjadi profesional dan bisnisnya jalan. Sehingga apa yang dilakukan BI ini punya track record yang baik, ” tandas Emil

“Sedang salah satu strategi untuk menembus pasar ekspor adalah dengan membuat communal branding, Jika UMKM kita berjuang sendiri-sendiri tentu susah, namun jika kita membuat aliansi dengan membantu satu sama lain memanfaatkan jejaring yang sudah ada dan memiliki standardisasi produk dan kapasitas, tentunya akan lebih mudah, ” tambah Emil.(e/l)

editor :Ikhsan.muafikul

 

Tokyo Medical Tour

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here