Yang perlu Anda ketahui tentang ‘gaman’, seni ketekunan dari Jepang

    0
    93
    views

    Hari kerja di Tokyo umumnya dimulai dengan perjalanan melalui sistem kereta bawah tanah tersibuk di dunia. Sekitar 20 juta orang naik kereta di ibukota Jepang setiap hari.

    Ini adalah proses yang menegangkan karena penumpang yang terburu-buru bergegas ke segala arah. Di peron, semua orang bergerak dalam formasi yang ketat di samping pintu kereta untuk menghindari menghalangi penumpang yang turun, lalu bergegas masuk, meskipun dalam gerak lambat.

    Mereka yang tergencet di dalam mendapati bergerak nyaris mustahil dilakukan; kaki terkadang tidak menyentuh tanah. Namun, bahkan di kereta yang penuh sesak ini, keheningan yang tetap ada.

    Perilaku yang tenang dan teratur cenderung menjadi ciri khas Jepang, bahkan ketika dalam kerumunan terbesar.

    Pengunjung dari luar negeri sering terkejut dengan kesediaan orang-orang untuk menunggu dengan sabar untuk transportasi, peluncuran merek dan, misalnya, bantuan sosial setelah gempa bumi dan tsunami Fukushima yang mematikan, yang minggu lalu tepat terjadi terjadi delapan tahun silam.

    Tetapi banyak upaya dilakukan untuk mempertahankan tatanan luar ini: di Jepang, upaya ini dikenal sebagai ‘gaman’.

    ‘Gaman’ bisa berarti konsep bertahan dalam menghadapi krisis, seperti yang terjadi ketika gempa dan tsunami yang melanda Tohoku pada 2011, namun itu juga berlaku untuk hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari

    Bertekun dalam masa-masa sulit

    Sederhananya, gaman adalah gagasan bahwa individu harus menunjukkan kesabaran dan ketekunan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga atau sulit, dan dengan demikian mempertahankan ikatan sosial yang harmonis.

    Konsep ini menyiratkan tingkat pengendalian diri: Anda mengerem perasaan Anda untuk menghindari konfrontasi. Ini adalah tugas yang diharapkan dan dipandang sebagai tanda kedewasaan.

    David Slater, profesor antropologi dan direktur Institute of Comparative Culture di Universitas Sophia Tokyo, menggambarkan gaman sebagai serangkaian strategi untuk menangani peristiwa di luar kendali kami.
    Individu mengembangkan dalam diri mereka kemampuan untuk bertahan dan menoleransi hal-hal yang tidak terduga atau buruk, sulit untuk dilalui,” katanya.

    Gaman diasah sejak booming ekonomi Jepang pasca-perang ketika kerja mengambil status pembangunan bangsa – yang berarti mengorbankan waktu bersama keluarga selama berjam-jam di kantor.

    Pada dasarnya, jelas Noriko Odagiri, seorang profesor psikologi klinis di Tokyo International University, adalah fakta bahwa orang Jepang menghargai tidak banyak bicara dan menekan perasaan negatif terhadap orang lain.

    Pelatihan dimulai sejak dini; anak-anak belajar dengan teladan orang tua. Kesabaran dan ketekunan juga merupakan bagian dari pendidikan, mulai dari sekolah dasar.

    “Khusus untuk perempuan, kami dididik tentang gaman sebanyak mungkin,” kata Odagiri.

    Gaman dapat bermanifestasi dalam jangka panjang, seperti tetap dalam pekerjaan yang tidak menyenangkan atau mentolerir kolega yang menyebalkan, atau jangka pendek, seperti mengabaikan penumpang yang berisik atau orang tua yang menerobos antrian.

    Tokyo Medical Tour

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here