Seminar Perubahan Kebijakan Kehutanan Indonesia

0
76
views

Memperingati 60 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Jepang, KBRI Tokyo Menggelar Seminar Perubahan Kebijakan Kehutanan Indonesia.

Dilansir dari KBRI Tokyo (3/7/2018), bertempat di Auditorium Universitas Waseda, KBRI Tokyo telah melaksanakan seminar perubahan kebijakan kehutanan di Indonesia bertajuk “Changing Paradigm of Forestry Policy In Indonesia: Toward Promotion of Community-based Sustainable Forest Management” pada Hari Kamis tanggal 28 Juni 2018.

Pelaksanaan seminar ini merupakan kerjasama KBRI Tokyo dan berbagai lembaga/organisasi lainnya seperti Universitas Waseda, Forestry Agency (Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang, MAFF), Japan International Forestry Promotion and Cooperation (JIFPRO) dan Japan Forest Technology Association (JAFTA) dan W-BRIDGE (Waseda-Bridgestone Initiative for Development of Global Environment).

Seminar sehari ini menghadirkan 16 pembicara dari berbagai sumber, baik dari lingkup Pemerintah Indonesia (Kementerian LH dan Kehutanan) dan Pemerintah Jepang (Forestry Agency-MAFF), organisasi internasional Jepang (JIFPRO, JAFTA, Institute for Global Environmental Strategies/IGES), kalangan swasta (Sumitomo Forestry, APP Indonesia, YL Forest, PT. Rimba Makmur Utama), dan Lembaga Swadaya Masyarakat (Belantara Foundation, Tenkawang Network, More Trees, JEEF).

Seminar dimoderatori oleh kalangan akademisi Jepang diantaranya dari Universitas Waseda, Universitas Tsukuba, Universitas Nagoya, Kyushu Institute of Technology dan Kyushu University. 

Sumber gambar : KBRI Tokyo

Pelaksanaan seminar dilakukan dengan penyampaian sambutan  (Welcome Remarks) oleh Direktur Eksekutif Bidang Hubungan Internasional Universitas Waseda (Prof. Norimasa Morita) dan dibuka secara resmi oleh Wakil Duta Besar RI di Tokyo (Mochamad Abas Ridwan).  Selanjutnya seminar dilanjutkan dengan penyampaian Keynote Speakers oleh Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Kementerian LH dan Kehutanan (Dr. Hilman Nugroho Ibrahim) dan Wakil Direktur Jenderal Forestry Agency Jepang (Mr. Koji MAKIMOTO) untuk memberikan tinjauan terhadap hubungan bilateral Indonesia-Jepang di bidang kehutanan.

Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Duta Besar RI menyampaikan bahwa Indonesia dapat belajar dari sejarah panjang Jepang dalam mengelola hutannya sebagai role model dimana pengelolaan hutan menjadi sumber penghidupan (“Mori  wa Chikyu no Takaramono) dan ekonomi masyarakat setempat karena hutan diberlakukan secara proporsional, harmonis dan modern dengan konsep keberlanjutan. 

Disampaikan bahwa melihat banyaknya jumlah peserta seminar menunjukkan bahwa sektor kehutanan masih memainkan peran penting bagi peningkatan kerjasama kedua negara. Selain itu, Jepang merupakan mitra strategis Indonesia, sehingga momentum 60 tahun hubungan bilateral Indonesia Jepang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kerjasama bidang kehutanan di masa mendatang dengan tidak lagi mengandalkan bantuan dan kerjasama teknis tapi lebih pada mitra kerjasama yang sejajar dan terpercaya, termasuk juga untuk bekerjasama dalam menangani isu-isu global.

Secara khusus, Wakil Duta Besar RI Tokyo menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah dan Publik Jepang atas bantuan dan kerjasama kehutanan yang telah terjalin selama ini.

Pada kesempatan ini, Direktur Jenderal PHPL Kementerian LH dan Kehutanan secara simbolis menyerahkan Piagam  berupa Prangko Edisi Khusus “Tanam dan Pelihara 25 Pohon Seumur Hidup” kepada Wakil Duta Besar RI Tokyo, Universitas Waseda dan Forestry Agency Jepang, yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo sebagai ajakan untuk melakukan kegiatan penanaman pohon minimal 25 pohon per warga untuk seumur hidup yang merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Angka 25 berasal dari tanam 5 batang saat jenjang SD, 5 batang SMP, 5 batang SMU, 5 batang perguruan tinggi dan 5 batang saat menikah.

Seminar diisi dengan pemaparan dan diskusi panel pada 4 sesi/tema. Wakil Pemerintah Indonesia yang hadir sebagai pembicara adalah Dr. Rufi’ie (Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian LH dan Kehutanan) untuk pemaparan kebijakan pengelolaan hutan lestari untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), Yuyu Rahayu, (Sekretaris Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, KLHK) untuk Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Herudojo Tjiptono (Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat, Kementerian LHK) untuk tema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat, dan Dody Wahyu Karyanto (Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, KLHK) untuk  Pengelolaan Hutan Berbasis Sumberdaya Ekosistem. Seminar kemudian ditutup oleh Atase Kehutanan KBRI Tokyo (Dr. Riva Rovani) sebagai perwakilan pihak pelaksana KBRI Tokyo.

Tokyo Medical Tour

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here