Pasien Klinik Saraf Terjepit di Jepang Didominasi Orang Indonesia

    0
    202
    views

    Sering kali kita mendengar atau mengetahui seseorang menderita saraf terjepit, kerap kali sampai sulit untuk disembuhkan. Ada yang menempuh jalan terapi hingga operasi, kadang masih ada kegagalan.

    Dilansir dari Tribunnews.com (15/5/2018), saraf terjepit banyak dikeluhkan oleh orang-orang berusia sekitar 50 tahunan ke atas. Tapi hal itu ternyata dapat disembuhkan dengan baik (80 sampai 90 persen) di sebuah klinik di Tokyo. Dari hasil survey, ternyata sekitar 50 pasiennya adalah orang Indonesia.

    “Awalnya teman saya Imai yang punya sekolah masakan Jepang banyak kenalan orang Indonesia. Lalu dikenalkan satu per satu dan kemudian ada yang ajak buat seminar di Jakarta tahun 2017 pertama kali,” kata dokter khusus ortopedik Dr Hisayuki Miyajima (59) kepada Tribunnews.com, Senin (14/5/2018).

    Dr. Hisayuki Miyajima (Sumber gambar : Tribunnews.com)

    Kini untuk kedua kali mulai 11 Juni 2018 Miyajima membuat seminar lagi di Jakarta. Biaya pendaftaran peserta gratis dan kini sudah mencapai 100 orang.

    “Ya terus berkembang dari mulut ke mulut sehingga semakin banyak pasien orang Indonesia, jumlahnya sekitar 50 orang sejak klinik ini dibuka tahun 2005,” tambahnya.

    Dari 100 orang asing yang menjadi pasiennya ternyata 50 persen adalah orang Indonesia berduit.

    “Mereka umumnya sudah periksa ke berbagai negara seperti Singapura dan Amerika akhirnya ke klinik saya ini, mungkin dikenalkan teman-temannya,” ungkapnya lagi.

    Tidak murah berobat ke klinik Meguro Yuai tersebut dan terutama penggunaan laser bagi orang Jepang pun tidak dijamin asuransi kesehatan Jepang karena laser dianggap hal khusus di luar jaminan pemerintah. Operasi PLDD (Percutaneous Laser Disc Decompression) untuk herniasi lumbar pada operasi pertama untuk 1 diskus vertebra dengan harga termasuk pajak 799.200 yen (sekitar Rp 104 juta). Tambahan lebih 1 disk vertebral dengan harga termasuk pajak 432.000 yen.

    Sedangkan operasi PLDD untuk herniasi serviks pada operasi pertama untuk 1 diskus vertebra dengan harga termasuk pajak 993.600 yen (sekitar Rp 129 juta). Tambahkan lebih 1 disk vertebral dengan harga termasuk pajak 540.000 yen. Biaya-biaya tersebut termasuk 3 kali penggunaan MRI. Belum lagi pemeriksaan setelah operasi, maka total penyembuhan mungkin sekitar Rp 150 juta.

    PLDD adalah perawatan laser invasif minimal yang dilakukan menggunakan anestesi lokal untuk hernia atau tonjolan pada pasien tertentu. Selama prosedur, serat optik dimasukkan melalui jarum, jarum tipis dimasukkan ke dalam cakram hernia (target ujung jarum adalah pusat cakram yang disebut nukleus pulposus) di bawah panduan x-ray. Dan energi laser dikirim melalui serat menguapkan sebagian kecil dari inti cakram. Ini menciptakan vakum parsial yang menarik protrusi/herniasi jauh dari akar saraf, mendekompresinya.

    Setiap prosedur PLDD membutuhkan waktu 30-40 menit dan dua disk dapat diobati pada saat yang sama jika perlu. Setelah PLDD, masa inap di rumah sakit adalah 3 hingga 4 jam. Pasien bangun dari tempat tidur setelah sekitar 3 jam. Setelah 3-4 jam, pasien dapat ke luar.

    Gejala hernia pulih dari hari ke hari, namun ada perbedaan individu dalam kecepatan pemulihan. Biasanya pasien setelah PLDD, membutuhkan beberapa obat nyeri selama berhari-hari atau 2-3 minggu. Kunjungan tindak lanjut dijadwalkan pada 2 bulan, 4 dan 6 bulan setelah prosedur. Kemudian dokter akan mengevaluasi hasil dari disk herniasi setelah PLDD.

    “Orang Indonesia enak sekali diajak bicara, gampang berteman dan kadang pasien membawa penerjemahnya sendiri. Juga membawa hasil penelitian dokter di Indonesia sebagai data awal kami. Kalau tak ada pemeriksaan apa pun, di klinik ini juga bisa dilakukan pemeriksaan segalanya mulai awal,” kata dia.

    Melihat Jakarta saat kunjungannya tahun lalu, Miyajima merasakan makanan banyak gorengan di Indonesia membuat orang-orang kena penyakit cepat gemuk dan itu tidak baik.

    “Mungkin untuk penyembuhan sebelumnya pasien diet dulu lah supaya lebih segar lagi tubuhnya. Makanan yang berminyak di Indonesia tampaknya banyak membuat orang cepat gemuk dan kurang baik bagi kesehatan. Belum lagi kurang olahraga, semua bergerak pakai mobil atau motor, ini menambah sakit,” tambahnya.

    Namun Miyajima senang melihat kehidupan Jakarta yang semarak dan enerjik, masih banyak SDM ketimbang Jepang yang sudah sangat sedikit jumlahnya.

    Tokyo Medical Tour

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here