Masa Depan Larangan Merokok di Jepang

0
78
views

Masa depan larangan merokok menjadi tinjauan bagi pemerintah di Jepang. Seperti siaran dari NHK Jepang (10/4/2018), Kementerian Kesehatan memperkirakan sekitar 15.000 orang perokok pasif meninggal dunia setiap tahunnya di Jepang.

Atas dasar itu, sebuah rancangan undang-undang yang ditujukan untuk melindungi perokok pasif diserahkan ke Parlemen pada bulan lalu. Ini merupakan rancangan undang-undang pertama di Jepang yang memberlakukan denda bagi para pelanggarnya.

Pemerintah berencana untuk meloloskan rancangan undang-undang tersebut dalam sesi Parlemen saat ini sehingga bisa diterapkan pada April 2020 menjelang Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo yang dimulai bulan Juli. Dalam Tinjauan kali ini ada komentator senior NHK Toshiyuki Tsuchiya tentang kebijakan tersebut.

Tsuchiya mengatakan pemerintah mendapatkan persetujuan dari Kabinet untuk sebuah rancangan undang-undang guna merevisi UU Kesehatan yang ditujukan untuk membatasi perokok pasif dan RUU tersebut telah diserahkan ke Parlemen.

Tujuan utamanya adalah membuat sekolah-sekolah, rumah sakit dan kantor institusi pemerintah bebas dari asap rokok. Sementara bagi tempat-tempat seperti perkantoran dan toko-toko di mana banyak orang berkumpul, larangan merokok diberlakukan di dalam ruangan kecuali di ruangan khusus merokok yang wajib disediakan.

Apakah restoran dan tempat makanan akan dimasukkan ke dalam kategori toko yang menjadi wilayah dilarang merokok masih menjadi perhatian utama. Pada akhirnya, pemerintah mengambil rancangan sikap yang cukup kompleks untuk memberlakukan kebijakan yang berbeda tergantung dari ukuran bisnisnya. Orang-orang akan diizinkan untuk merokok di restoran yang sudah lama berdiri dengan ukuran yang lebih kecil, apabila tanda yang menginformasikan kebijakan tersebut dipasang.

Hal ini ditujukan bagi bisnis dengan modal sekitar 50 juta yen dengan luas ruangan sekitar 100 meter persegi atau di bawahnya, yang dikelola oleh perorangan dan usaha kecil. Bagi restoran yang tidak masuk dalam kategori tersebut, larangan merokok di dalam ruangan akan diterapkan kecuali di ruangan khusus merokok sama seperti di perkantoran.

Yang pasti RUU ini akan lebih lunak bagi rokok elektrik. Restoran diizinkan untuk membuat ruangan di mana para pelanggannya bisa menyalakan rokok elektrik saat menyantap hidangan, dengan demikian area perokok dan non-perokok akan terpisah. Diperkirakan ada lebih dari 50 persen restoran yang akan dikecualikan dari larangan merokok.

Tapi mengapa harus sedemikian kompleksnya? Menurut Tsuchiya, yang menjadi latar belakangnya adalah perang antara Kementerian Kesehatan selaku pihak yang memprioritaskan perlindungan kesehatan warga dengan Partai Demokrasi Liberal atau LDP yang berkuasa. LDP yang pro-bisnis mempertimbangkan penolakan dari industri restoran yang mengkhawatirkan kebijakan ini akan berdampak negatif bagi usahanya.

Kebijakan ini masih berupa RUU, jadi ada kemungkinan akan diperbaiki dan menjadi lebih baik saat dibahas di Parlemen. Namun menilai dari kondisi yang ada saat ini, tampaknya sulit untuk mengurangi jumlah perokok pasif hingga Olimpiade Tokyo berlangsung 2020 mendatang. Tetapi di luar pada itu, semuanya terserah warga Jepang. Seberapa besar upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi korban jiwa karena menjadi perokok pasif. Tsuchiya meyakini semuanya tergantung dari diri sendiri untuk memilih tempat untuk bekerja atau makan.

Tokyo Medical Tour

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here